download
Decoration
biksu thudong

Biksu Thudong, Ritual Sambut Hari Raya Trisuci Waisak di Borobudur

Biksu Thudong atau Bhikkhu Thudong menjadi salah satu tradisi yang menarik perhatian masyarakat saat momen perayaan Waisak di Indonesia. Tradisi ini dilakukan dengan berjalan kaki sejauh ribuan kilometer, bahkan melintasi berbagai negara.

Para biksu menjalani tradisi spiritual yang penuh kesederhanaan, ketekunan, dan pengendalian diri. Tidak heran jika perjalanan ini sering mengundang rasa kagum sekaligus penasaran dari banyak orang, tidak hanya umat Buddha.

Sebenarnya, apa makna tradisi Biksu Thudong itu sendiri dan bagaimana awal mula tradisi ini dilakukan? Yuk, simak penjelasan selengkapnya dalam artikel di bawah ini.

Mengenal Sejarah Tradisi Biksu Thudong

Biksu Thudong adalah praktik dalam ajaran Buddha yang dilakukan dengan cara hidup sederhana dan berpindah-pindah tempat sambil mendalami meditasi serta latihan batin. Selama perjalanan, para biksu biasanya hanya membawa perlengkapan seperlunya dan mengandalkan pemberian makanan dari masyarakat. 

Tujuan dilakukannya Thudong adalah melatih kesabaran para biksu. Di mana, para biksu akan terkena panas matahari, hujan, serta hanya bisa makan satu kali setiap hari dengan minum seadanya dan tinggal atau beristirahat di tempat seadanya.

Perjalanan spiritual ini menjadi simbol perjuangan sang Buddha sebelum memiliki vihara, tempat tinggal, dan transportasi. Oleh karenanya, para bhante yang menyebarkan ajaran Buddha pada kala itu harus jalan dari hutan ke hutan.

Sebelum perjalanan dimulai, para biksu biasanya akan berpuasa dan berdiam diri di suatu tempat selama empat bulan pada musim hujan. Kemudian, memasuki musim panas, Thudong akan dilaksanakan.

Makna Kesederhanaan dan Kesabaran dalam Tradisi Biksu Thudong

Thudong tidak hanya sekadar perjalanan, tradisi ini membawa makna mendalam mengenai kesabaran, ketahanan, dan kesungguhan hati saat menempuh jarak yang jauh. Tradisi ini mengajarkan bahwa setiap umat beragama harus kembali pada iman untuk menerapkan ajaran agama masing-masing. 

Perjalanan spiritual ini juga menunjukkan toleransi antarumat, seperti saat perjalanan Biksu ke Indonesia contohnya. Sepanjang perjalanan, di berbagai daerah, para biksu mendapatkan dukungan dari masyarakat dari berbagai latar belakang agama. Hal ini juga bisa menjadi simbol perdamaian antaragama.

Selama perjalanan, tidak sedikit masyarakat yang menyambut dan memberikan persembahan kepada para bhante berupa makanan, air minum, buah-buahan, bahkan sekedar menyiram jalanan yang akan dilalui oleh para biksu agar tidak terlalu panas. Dan bukan hanya sekedar masyarakat Buddha yang menyambut, namun seluruh masyarakat pada umumnya. Sangat memperlihatkan indahnya perbedaan, bukan?

Biksu Thudong dan Waisak 2026

Biksu Thudong pertama kali dilaksanakan di Indonesia pada tahun 2023. Kala itu, para biksu melakukan perjalanan dari Thailand ke Indonesia dalam rangka memperingati Hari Raya Tri Suci Waisak di Borobudur. Hingga kini, Thudong tetap menjadi salah satu rangkaian utama perayaan Waisak di Borobudur.

Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, perjalanan Biksu di tahun 2026 mengusung konsep baru bernama Indonesia Walk For Peace (IWFP). Tajuk ini merupakan simbol bahwa perjalanan biksu tidak hanya sebatas ritual keagamaan melainkan membawa pesan perdamaian dan kemanusiaan.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan rute Thailand-Bali-Candi Borobudur dan melibatkan para biksu dari berbagai negara, mulai dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia yang melambangkan persaudaraan lintas negara. Hal ini juga mencerminkan bahwa semangat perdamaian dan kebersamaan melampaui batas bangsa maupun budaya.

Perjalanan dari Bali menuju Candi Borobudur ditempuh dengan jarak sekitar 666 km, dimulai tanggal 9 Mei 2026 dan diperkirakan tiba pada tanggal 28 Mei 2026 sebelum turut serta dalam puncak perayaan Waisak (Festival Purnama) pada 31 Mei 2026 di Candi Borobudur.

Sambut Akhir Perjalanan Biksu Thudong di Borobudur

Setelah melakukan perjalanan dalam kurun waktu kurang lebih 20 hari, kedatangan para bhante akan disambut di Candi Borobudur pada tanggal 30 Mei 2026. Sebelum menuju puncak perayaan Waisak, bhante akan melakukan berbagai ritual, mulai dari San Pu Yi Pay, Nyingma Monlam Chenmo Indonesia, pengambilan Api Mrapen ke Mendut, serta pengambilan air berkah dari Umbul Jumprit ke Mendut.

Pada puncak perayaan Waisak di Borobudur pada 31 Mei 2026, para bhante memulai kegiatan San Bu Yia Bai, parade, ritual Waisak, penyalaan dupa, meditasi dan detik-detik Waisak, pujian dan doa, pradaksina, dan seremonial Waisak di malam hari.

Rangkaian perayaan Waisak di Borobudur ini ditutup dengan pelepasan lentera, momen yang tak kalah dinanti-nanti oleh para pengunjung. Setiap tahun, momen ini telah menjadi salah satu ikon perayaan Waisak. Pelepasan lentera ini tidak hanya bisa diikuti oleh umat Buddha, melainkan seluruh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. 

Apakah kamu ingin menjadi salah satu dari ribuan orang yang merasakan pengalaman sakral ini secara langsung? Kalau iya, jangan sampai kehabisan tiketnya. Tiket pelepasan lentera di Borobudur bisa dibeli secara online melalui website resmi Injourney Destination. Langsung saja cek di Tiket Waisak Borobudur.

Yuk, segera pesan tiketmu dan saksikan indahnya perayaan Waisak bersama ribuan pengunjung dari berbagai daerah dan negara di Candi Borobudur!

Baca juga: Waisak Borobudur 2026 bersama InJourney: Jadwal, Tiket, dan Informasi Acara