Menyiapkan Masa Depan jelang Purna Tugas
InJourney Destination Management menyelenggarakan Pelatihan Purna Tugas bagi 35 karyawan-karyawati sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mempersiapkan masa transisi menuju purna tugas secara menyeluruh. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, pada 20–24 Juli 2026 di kawasan Batu, Malang, Jawa Timur, ini dirancang untuk memberikan pembekalan dari aspek kesehatan, mental, finansial, hingga pengembangan peluang usaha.
Program ini menjadi ruang pembekalan bagi karyawan jelang purna tugas secara lebih terencana. Melalui rangkaian sesi edukatif, peserta diajak mengenali kembali potensi diri, mengelola perubahan kehidupan dengan hidup sehat, mempersiapkan kondisi finansial dengan mengeksplorasi peluang produktif.
Direktur Operasi IDM Indung Purwita Jati menyampaikan bahwa program tersebut merupakan bentuk penghargaan perusahaan atas perjalanan pengabdian para karyawan sekaligus wujud tanggung jawab perusahaan dalam mempersiapkan mereka memasuki fase kehidupan berikutnya.
“Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen perusahaan bahwa setiap purna karya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan besar perusahaan. Sudah menjadi kewajiban kami untuk memastikan seluruh insan yang memasuki masa purna tugas mendapatkan penghormatan serta bekal terbaik menjelang purna tugas,” jelasnya.
Menurutnya, 35 peserta merupakan bagian dari putra-putri terbaik perusahaan yang selama bertahun-tahun telah memberikan dedikasi dalam menjaga dan mendukung pengelolaan destinasi yang berada di bawah IDM, mulai dari Candi Borobudur, Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko, hingga Teater & Pentas.
“Kami menyadari bahwa memasuki masa purna tugas dapat membawa perasaan yang bercampur. Ada rasa syukur, tetapi tidak menutup kemungkinan juga ada kekhawatiran ketika menyambut babak kehidupan yang belum pernah dijalani sebelumnya,” lanjutnya.
Atas dasar tersebut, perusahaan merancang pelatihan selama lima hari dengan pendekatan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan pascapurna tugas. Peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga diajak melakukan refleksi dan praktik agar mampu menyusun langkah yang lebih realistis dalam menghadapi masa setelah purna karya.
“Karena itulah, program lima hari ini kami hadirkan bukan sebagai formalitas administratif, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab kami untuk membekali purna karya secara fisik, mental, finansial, serta peluang usaha agar dapat melangkah ke depan dengan hati yang tenang dan kepala yang tegak,” tutur Indung.
Bekal Kesehatan dan Kesejahteraan Mental
Salah satu materi utama dalam pelatihan adalah healthy retirement yang membahas manajemen stres dan pemenuhan nutrisi bagi lansia. Peserta mendapatkan pemahaman mengenai pola makan yang sesuai pada usia lanjut, kebutuhan nutrisi, serta berbagai cara menjaga kesehatan tubuh setelah memasuki masa purna tugas.
Selain aspek fisik, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai teknik mengelola stres yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi ini menjadi penting karena perubahan rutinitas dari kehidupan kerja menuju masa purna tugas dapat memerlukan proses adaptasi secara psikologis dan emosional.
Pelatihan juga menghadirkan mindful reflection session atau refleksi spiritual yang memberikan ruang bagi peserta untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan kehidupan dan pengabdian yang telah dilalui, serta belajar melepaskan emosi negatif dari pengalaman masa lalu.
Melalui sesi reflektif tersebut, peserta diajak membangun penerimaan terhadap perubahan, memperkuat ketenangan batin, dan memandang masa purna tugas bukan sebagai akhir dari produktivitas, melainkan sebagai fase baru yang dapat dijalani dengan perspektif dan tujuan yang berbeda.
Literasi Keuangan untuk Menjaga Kemandirian Finansial
Aspek finansial menjadi salah satu perhatian utama dalam program ini. Melalui sesi financial literacy and asset protection, peserta mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan uang pesangon, penyusunan prioritas keuangan, serta strategi mengalokasikan dana pada instrumen investasi dengan tingkat risiko yang lebih terukur.
Untuk memberikan gambaran yang lebih praktis, pelatihan dilengkapi simulasi penyusunan pengeluaran bulanan tanpa gaji tetap. Melalui simulasi tersebut, peserta dapat memahami bagaimana mengatur kebutuhan sehari-hari dengan sumber dana yang tersedia, sekaligus menyusun skala prioritas agar kondisi keuangan tetap sehat dalam jangka panjang.
Pembekalan finansial tersebut diharapkan dapat membantu peserta mengambil keputusan secara lebih bijak dalam menggunakan dana pesangon maupun aset yang telah dimiliki, sehingga masa purna tugas dapat dijalani dengan kemandirian dan rasa aman secara finansial.
Mendorong Produktivitas melalui Kewirausahaan
Selain kesehatan dan finansial, IDM juga membekali peserta dengan wawasan kewirausahaan. Melalui sesi entrepreneurship, peserta diperkenalkan dengan konsep bisnis berskala mini yang dapat disesuaikan dengan kemampuan, sumber daya, pengalaman, dan lingkungan masing-masing.
Materi tersebut diarahkan untuk membuka perspektif bahwa masa purna tugas tetap dapat menjadi periode produktif. Pengalaman dan keterampilan yang diperoleh selama bekerja dapat dikembangkan menjadi modal untuk membangun aktivitas ekonomi baru, baik secara mandiri maupun melalui kemitraan.
Pembekalan kemudian dilanjutkan dengan digital marketing for home-based business workshop yang bersifat praktis. Peserta diajak mengoptimalkan perangkat yang telah dimiliki, terutama smartphone, untuk mendukung kegiatan pemasaran produk usaha rumahan.
Dalam sesi ini, peserta mempraktikkan pembuatan konten foto dan video produk skala mikro yang menarik dan estetik, sekaligus mendapatkan pemahaman mengenai strategi sederhana untuk memperkenalkan produk melalui kanal digital.
Tak berhenti pada kewirausahaan konvensional, peserta juga diperkenalkan dengan peluang kerja berbasis digital, seperti virtual assistant, freelancer, dan remote worker. Wawasan ini diharapkan dapat memperluas pilihan peserta dalam menjaga produktivitas dan memperoleh penghasilan tambahan sesuai dengan kapasitas dan minat masing-masing.
Menyiapkan Babak Baru dengan Lebih Percaya Diri
Direktur Operasi IDM Indung Purwita Jati menegaskan keberhasilan program purna tugas tidak hanya diukur dari seberapa banyak materi yang diterima peserta, tetapi dari sejauh mana pembekalan tersebut dapat menjadi bekal nyata untuk menjalani kehidupan setelah purna karya.
“Harapan kami, program ini benar-benar menjadi bekal yang menguatkan langkah Bapak dan Ibu memasuki masa purna tugas dengan percaya diri, tenang, dan tetap produktif. Purna tugas bukan berarti berhenti berkarya. Ini adalah kesempatan untuk membuka ruang baru, mengembangkan potensi, dan menikmati hasil dari perjalanan panjang yang telah Bapak dan Ibu dedikasikan untuk perusahaan,” jelasnya.
Menurutnya, perjalanan panjang para karyawan yang telah memberikan kontribusi dalam pengelolaan destinasi budaya dan pariwisata merupakan bagian penting dari perjalanan perusahaan. Karena itu, penghargaan terhadap karyawan tidak berhenti pada masa aktif bekerja, tetapi juga diwujudkan melalui upaya mempersiapkan mereka menghadapi fase kehidupan berikutnya.
Melalui Pelatihan Purna Tugas ini, IDM berharap para peserta dapat memasuki masa purna karya dengan perspektif yang lebih positif, kondisi kesehatan yang lebih terjaga, kesiapan mental yang lebih kuat, kemampuan mengelola finansial secara bijak, serta keberanian untuk mengeksplorasi peluang baru. Masa purna tugas dapat menjadi babak kehidupan yang tetap bermakna, mandiri, dan produktif, sekaligus menjadi bentuk penghormatan perusahaan atas dedikasi yang telah diberikan para karyawan selama perjalanan panjang bersama IDM.
