“Hidup Menghidupi” Usaha Menjaga Kearifan Lokal di Kawasan Borobudur
Candi Borobudur selama ini dikenal sebagai salah satu warisan budaya dunia dan destinasi wisata unggulan Indonesia. Namun, di balik kemegahan arsitekturnya, Borobudur juga menyimpan nilai-nilai kearifan leluhur tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan, membangun kebersamaan, serta menjaga hubungan yang harmonis dengan alam.
Semangat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai tersebut hadir melalui kegiatan “Hidup Menghidupi” yang berlangsung di area Kalpataru, Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (25/8/2026). Pada gelaran perdana ini, Hidup Menghidupi menampilkan kolaborasi lintas disiplin dari grup gamelan Menthang Gandewa dan Gardika Gigih, pianis dan komposer asal Sragen.
Kegiatan berbasis swadaya ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali merasakan kedekatan dengan Borobudur melalui ekspresi seni, refleksi spiritual, serta dialog mengenai nilai-nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur.
Pagelaran yang dirintis oleh kolektif Urip Iku Urup ini membawa semangat untuk memberikan manfaat bagi sesama. Nilai tersebut menjadi pijakan untuk memandang Borobudur bukan hanya sebagai tujuan wisata, tetapi sebagai ruang yang menyimpan pengetahuan, pengalaman, dan kearifan hidup yang relevan lintas generasi.
Semangat tersebut diterjemahkan untuk membuka ruang interaksi dan kolaborasi antarmasyarakat yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Borobudur sejak dahulu.
Penampilan Gardika Gigih menghadirkan pengalaman artistik melalui komposisi karya yang ia bawakan. Pertemuan antara musik tradisi dengan eksplorasi musik kontemporer menjadi simbol perjumpaan antargenerasi.
Masyarakat yang datang bisa menikmati suasana Borobudur pada malam hari. Bukan sekadar sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai ruang untuk berkumpul, berekspresi, berefleksi, dan mengapresiasi warisan leluhur.
Ke depan, semangat “Hidup Menghidupi” diharapkan dapat terus berkembang menjadi kegiatan yang berkelanjutan. Masyarakat maupun wisatawan dapat melihat dan mengalami Borobudur melalui perspektif yang lebih utuh, sebagai monumen warisan budaya dunia sekaligus ruang yang menyimpan kearifan lokal tentang kehidupan, kebersamaan, spiritualitas, dan kelestarian alam.
