Pagelaran Sabang Merauke di Candi Borobudur untuk Memperkuat Ekosistem Pariwisata dan Ekonomi Lokal
InJourney Destination Management (IDM) menggelar pertunjukan kolosal Pagelaran Sabang Merauke (PSM) di Taman Lumbini, Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (30/12/2025). Pagelaran Sabang Merauke ini tidak hanya dirancang sebagai hiburan semata, namun sebagai instrumen edukasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai kekayaan budaya Nusantara sekaligus memperkuat posisi Candi Borobudur sebagai destinasi wisata budaya kelas dunia.
Sebagai atraksi unggulan dalam menyambut masa libur akhir tahun 2025, pertunjukan yang mengusung tema “Mahakarya Borobudur” ini melibatkan lebih dari 90 penari profesional dari berbagai penjuru tanah air, pagelaran ini menyuguhkan rangkaian tarian, musik, dan busana etnik yang menggambarkan kekayaan identitas bangsa Indonesia di hadapan ribuan wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Pagelaran Sabang Merauke merupakan upaya strategis untuk menghidupkan kembali narasi warisan budaya Nusantara melalui seni pertunjukan yang megah, sekaligus memperkuat posisi Candi Borobudur sebagai destinasi wisata budaya kelas dunia yang dinamis,” jelas Direktur Komersial IDM Gistang Panutur, Selasa (30/12/2025).
IDM berharap melalui sinkronisasi antara kemegahan arsitektur candi dengan seni pertunjukan kontemporer yang sarat nilai historis ini dapat memberikan pengalaman wisata yang lebih mendalam dan emosional bagi pengunjung.
“Aktivitas ini sekaligus membuktikan komitmen kami dalam melakukan revitalisasi narasi di destinasi sejarah agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan akar tradisi yang sudah ada,” lanjutnya.
Direktur Komersial IDM Gistang Panutur, menyatakan bahwa penyelenggaraan ajang berskala besar di malam hari ini merupakan langkah nyata perusahaan untuk meningkatkan kualitas kunjungan wisatawan melalui peningkatan length of stay atau durasi tinggal wisatawan di kawasan Magelang.
Menurutnya, dengan adanya pertunjukan berkualitas yang digelar secara berkelanjutan, wisatawan tidak lagi hanya sekadar singgah untuk melihat candi dalam durasi singkat, melainkan terdorong untuk bermalam dan menikmati atmosfer kawasan Borobudur lebih lama.
“Hal ini secara langsung menciptakan multiplier effect bagi perekonomian lokal, di mana sektor perhotelan, jasa transportasi, hingga pelaku UMKM di sekitar kawasan cagar budaya akan merasakan dampak positif dari peningkatan aktivitas ekonomi tersebut,” terangnya.
Salah satu penonton asal Jakarta, Rina, mengaku sengaja mengajak anaknya untuk mengenalkan keragaman budaya Nusantara di lokasi yang memiliki aura sakral yang tidak ditemukan di tempat lain. Ia mengungkapkan pertunjukan ini menjadi sarana pembelajaran sejarah dalam kemasan modern.
Tak hanya soal estetika, pagelaran ini juga membawa misi kemanusiaan. Di akhir acara, pengelola menggalang donasi dari para penonton sebagai bentuk solidaritas bagi masyarakat yang terdampak bencana banjir dan longsor di wilayah Sumatra Barat, Sumatra Utara serta Aceh.
Transformasi pariwisata yang diusung oleh PT TWC saat ini berfokus pada kualitas kunjungan yang mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi. Melalui upaya memperpanjang masa tinggal wisatawan melalui atraksi seni budaya yang memikat, ekosistem ekonomi di kawasan Borobudur dapat bergerak lebih produktif dan inklusif.
“InJourney Destination Management akan terus konsisten menghadirkan inovasi serupa guna memastikan bahwa Candi Borobudur tidak hanya menjadi monumen masa lalu, tetapi juga menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan budaya yang memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar serta memperkokoh jati diri bangsa di mata dunia,” pungkasnya.
