download
Decoration

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni, Kini Hermiyati Tak Lagi Menumpang Mandi

 InJourney Destination Management resmikan pembangunan Rumah Layak Huni (RLH) milik Hermiyati warga Dusun Kwaron, Kebondalem Kidul, Kecamatan Prambanan, Klaten, Kamis (15/1/2026). 

Komisaris Utama InJourney Destination Management Muhammad Tri Andika bersama Direktur Utama InJourney Destination Management Febrina Intan dan jajaran komisaris dan direksi lainnya secara langsung meresmikan pengerjaan renovasi total dengan bantuan total senilai 52 juta rupiah yang dikerjakan dalam jangka waktu selama 45 hari tersebut.

Peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti serta penyerahan kunci rumah secara simbolik, yang diakhiri dengan peninjauan langsung oleh jajaran direksi IDM dan diikuti oleh sejumlah tamu undangan, antara lain Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Klaten Joko Istanto, Kepala Disperakim Klaten Anwar Shodiq dan Forkopimcam Prambanan, Klaten.

Komisaris Utama IDM Muhammad Tri Andika mengatakan program perbaikan rumah tidak layak huni tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab sosial lingkungan dari IDM. Ia menyebut, sejak tahun 2016 sudah memperbaiki rumah bagi warga tidak mampu yang berada di sekitar obyek wisata Candi Prambanan dan Borobudur sebanyak 52 unit.

“Ini merupakan salah satu program dari Corporate Social Responsibility (CSR) maupun tanggung jawab sosial lingkungan TWC. Untuk pembangunan rumah ke 52 sejak tahun 2016. Jadi tema program utama kami tahun ini 2026 berdaya. Salah satu wujud memberikan keberdayaan bagi masyarakat melalui pembangunan renovasi rumah,” katanya.

Program renovasi rumah tidak layak huni ini sebagai wujud kepedulian kepada masyarakat khususnya yang berada di lingkar terdekat perusahaan maupun destinasi.

“Kami percaya bahwa hunian yang layak adalah fondasi utama bagi kesejahteraan warga. Komitmen kami untuk menghadirkan destinasi wisata yang tidak hanya kelas dunia, namun keberadaannya harus bermanfaat dan berdampak pada komunitas lokal. Kami ingin memastikan tidak ada masyarakat di sekitar destinasi yang tertinggal dalam aspek standar kelayakan hidup sehat, nyaman dan sejahtera,” jelasnya.

Hermiyati bercerita bahwa dirinya yang sehari-hari mengelola usaha laundry kecil-kecilan ini tinggal di rumah berukuran 4×8 meter dengan dinding non-permanen dan lantai tanah. Kini, ibu dari tiga anak ini,  menempati rumah layak berukuran 7×6 meter yang dilengkapi tiga kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan kamar mandi bersih.

“Saya dan suami, yang bekerja sebagai buruh harian, tidak pernah menyangka akan memiliki rumah sebagus ini. Dulu rumah kami sempit, pengap, dan lantainya masih tanah. Kalau hujan, kami selalu khawatir. Sekarang, rumah kami sudah tembok permanen, ada tiga kamar, bahkan ada ruang tamu yang layak. Ini berkah bagi keluarga kami. Saya pun bisa menjalankan usaha laundry dengan lebih nyaman dan anak-anak bisa tidur di kamar yang layak,” jelasnya.

Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo dalam sambutan tertulisnya dibacakan Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Pembangunan Joko Istanto menyambut gembira adanya program dari TWC tersebut sekaligus dapat mengurangi angka kemiskinan ekstrim di Kabupaten Klaten.

”Rehab RTLH ini membantu program penanggulangan kemiskinan Pemkab Klaten. Semoga dirawat dan dijaga kebersihannya dan semangat gotong royong terus dipupuk,” kata dia.

Kepala Disperakim Klaten, Anwar Shodiq, mengungkapkan program rehab RTLH melalui CSR sangat membantu percepatan salah satu program untuk pengentasan kemiskinan di Klaten.

“Tentu kami sangat senang. Apalagi ini nilainya besar sekitar Rp60 juta satu rumah.  Hasilnya stimulannya itu lebih bahkan lebih bagus yang dari ini karena stimulannya banyak. Harapannya perusahaan-perusahaan yang maju itu tetap memperhatikan masyarakat sekitarnya, terutama yang butuh rumah layak ini,” kata Shodiq.

Direktur Utama IDM Febrina Intan mengatakan program ini selaras dengan nilai-nilai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dalam poin pengentasan kemiskinan serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang berada di sekitar perusahaan maupun destinasi Taman Wisata Candi (TWC).

“Di tahun ini, kami ingin bisa lebih menjangkau masyarakat, menghadirkan program-program Berdaya yang lebih berdampak. Lebih daripada membangun bangunan fisik, rumah ini merupakan simbol harapan baru, martabat, dan keamanan hidup bagi penerima manfaat. Kami berkomitmen melanjutkan program ini untuk bisa lebih banyak menjangkau, merenovasi rumah tidak layak huni khususnya di kawasan destinasi kami berada,” pungkas Febrina Intan.