Menteri Kebudayaan RI Hadiri Ritual Ageng Boyongan Mbah Bhelet di Candi Borobudur
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menghadiri ritual Ageng Boyongan Mbah Bhelet untuk mengawali pemindahan Arca Unfinished Buddha atau yang dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Mbah Bhelet di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (3/5/2026).
Pemindahan arca ini merupakan bagian dalam pengembangan nilai-nilai budaya di Candi Borobudur. Arca yang awalnya ditemukan di dalam stupa induk Candi Borobudur ini sebelumnya disimpan di Museum Karmawibhangga, yang berada di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur.
Menurut rencana, arca tersebut akan dipindahkan ke lapangan Kenari agar lebih mudah diakses oleh masyarakat umum, wisatawan, hingga peziarah untuk melakukan aktivitas spiritual.
“Pemindahan arca ini telah dikonsultasikan dengan seniman, budayawan, tokoh lokal, serta para Bhante dan Bhikkhu. Harapannya, penempatan arca ini di Lapangan Kenari dapat menghadirkan nilai budaya dan spiritual yang lebih kuat, sekaligus membuatnya lebih mudah diakses,” jelas Fadli.
Prosesi pemindahan arca Unfinished Buddha ini juga melibatkan Lembaga Adat Desa Borobudur. Selain itu, prosesi juga menghadirkan pagelaran Wayang Ruwat oleh Ki Dalam Darmo Widjoyo serta doa bersama tokoh agama setempat untuk meminta restu penanda kesakralan lokasi baru.
“Melalui ritual ini kita melihat satu perjalanan, spiritual journey, yang bertujuan untuk mendapat keberkahan dan kebaikan, serta menjadi pelengkap dan penyempurnaan dari apa yang kita miliki,” tuturnya.
Secara arkeologis, Unfinished Buddha merupakan arca yang dianggap belum selesai karena pahatan yang tidak sempurna. Keberadaannya membuka ruang interpretasi ilmiah sekaligus merefleksikan keunikan lapisan peradaban sejarah bangsa Indonesia.
Menbud menegaskan bahwa seluruh proses penataan, termasuk pembuatan alas patung (pedestal), ditargetkan selesai tepat waktu untuk menyambut perayaan Tri Suci Waisak 2026.
“Kita dorong agar pedestal dan patungnya bisa segera selesai sebelum perayaan Tri Suci Waisak tanggal 31 Mei 2026,” tegas Fadli.
Selain mengikuti ritual Ageng Boyongan Mbah Bhelet, Menteri Kebudayaan juga berkesempatan mengunjungi Vihara Mendut dan bertemu dengan Bhante Pannavaro Mahathera. Ia menilai kawasan Mendut dan Borobudur bukan sekadar situs sejarah, tetapi ruang hidup yang harus dijaga nilai spiritualnya.
Fadli juga menyoroti simbol-simbol dalam tradisi Buddha, termasuk chattra atau payung sebagai bentuk penghormatan dan perlindungan. Ia menyebut simbol itu banyak ditemukan dalam relief Candi Borobudur.
“Ini selaras dengan aspirasi kita menjadikan Borobudur sebagai living heritage yang harus direalisasikan, tentu dengan dukungan organisasi-organisasi Buddha dan masyarakat luas,” kata Fadli.
Menteri Kebudayaan juga menegaskan bahwa perayaan Tri Suci Waisak memiliki dimensi yang lebih luas daripada sekadar momen keagamaan bagi umat Buddha. Peringatan ini, menurutnya, merupakan sebuah peristiwa budaya yang sarat makna bagi seluruh bangsa Indonesia.
“Waisak menjadi momentum untuk merenungkan ajaran Dharma sebagai pedoman hidup menuju kebijaksanaan dan kasih sayang, sekaligus memperteguh toleransi dan persatuan,” katanya.
Ia menegaskan pelestarian situs seperti Borobudur harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat, tidak hanya menjaga bangunan fisik tetapi juga nilai yang hidup di dalamnya.
Kementerian Kebudayaan menyatakan akan terus mendorong penguatan ekosistem kebudayaan nasional. Strategi ini mencakup revitalisasi situs budaya dan museum, percepatan registrasi cagar budaya nasional, hingga penguatan industri budaya sebagai pilar pemajuan kebudayaan yang berkelanjutan.
Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan RI Restu Gunawan, Kepala Museum dan Cagar Budaya Indira Esti Nurjadin, Direktur Utama InJourney Destination Management Febrina Intan, Direktur Operasi IDM Indung Purwita Jati, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah Riris Purbasari, tokoh Lembaga Adat Desa Borobudur serta tokoh masyarakat lainnya.
