Peringati 20 Tahun Gempa Yogyakarta, InJourney Destination Management dan Kemenko PMK Latih 1.000 Siswa SMA di DI Yogyakarta Wujudkan Masyarakat Tangguh dan Berkelanjutan
Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI Lilik Kurniawan, Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo didampingi oleh Direktur Operasi InJourney Destination Management Indung Purwita Jati membuka langsung kegiatan simulasi bencana di SMA I Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Jumat (22/5/2026).
Program Kita Tangguh ini merupakan rangkaian peringatan 20 tahun gempa bumi Yogyakarta. Peringatan ini mengedepankan kolaborasi lintas sektor untuk membangun budaya sadar bencana dan memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi situasi darurat sekaligus penguatan kesiapsiagaan masyarakat terhadap risiko bencana.
“Peringatan dua dekade Gempa Yogyakarta menjadi pengingat penting akan besarnya risiko bencana yang dihadapi kawasan Yogyakarta dan berbagai wilayah di Indonesia. Selain menjadi ruang refleksi atas peristiwa gempa tahun 2006 yang meninggalkan dampak besar bagi masyarakat, momentum ini juga diarahkan sebagai sarana edukasi publik untuk membangun memori kolektif dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana di masa mendatang,” jelas Lilik Kurniawan.
InJourney Destination Management menyelenggarakan pelatihan tanggap bencana kepada 1.000 siswa SMA di Kabupaten Sleman, Bantul, Kota Yogyakarta, dan Gunungkidul. Program bertajuk InJourney Community Care yang berjalan dari bulan Januari–Mei 2026 ini menghadirkan serangkaian materi intensif yang mencakup spektrum mitigasi yang meliputi pemahaman risiko mengenai potensi bencana gempa bumi, teknik penyelamatan, evakuasi hingga simulasi penanganan darurat.
Direktur Operasi InJourney Destination Management Indung Purwita Jati menyampaikan bahwa keterlibatan perusahaan dalam peringatan ini merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan destinasi yang tidak hanya berorientasi pada pariwisata, tetapi juga memiliki nilai edukasi, keberlanjutan, dan ketangguhan masyarakat.
“Kawasan destinasi wisata memiliki peran strategis sebagai ruang edukasi publik, termasuk dalam membangun kesadaran mitigasi bencana. Melalui kolaborasi bersama berbagai pihak, kami ingin mendorong lahirnya masyarakat yang semakin tangguh, khususnya generasi muda, agar memiliki pemahaman yang baik mengenai kesiapsiagaan dan mampu menjadi bagian dari upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan sekitarnya,” ungkapnya.
Wakil Kepala Sekolah SMA I Kalasan Aris Widaryanti bercerita bahwa SMAN 1 Kalasan terdampak begitu parah. Selama masa recovery kegiatan belajar-mengajar di sekolah, tampak sisa-sisa ketakutan di wajah para pelajar dan guru karena kenyataan bahwa gempa bumi adalah bencana yang niscaya mengintai Kalasan.
Belajar dari bencana tersebut, sekolah menyadari pentingnya kesadaran tanggap bencana. Generasi muda perlu berlatih agar tangguh dalam menghadapi setiap potensi bencana. Komitmen tersebut dihadirkan salah satunya dengan menggunakan konstruksi bangunan sekolah yang dirancang tahan gempa. SMAN 1 Kalasan memperhatikan aspek kesiapsiagaan dan tanggap bencana bagi warga sekolah.
“Pelatihan tanggap bencana menjadi sangat penting untuk digalakkan, supaya kita seperti negara-negara seperti New Zealand dan Jepang, yang sudah punya mitigasinya tiap terjadi bencana seperti gempa bumi,” jelasnya.
Penyelenggaraan Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta diharapkan dapat terbangun rekomendasi kebijakan pengurangan risiko bencana yang lebih komprehensif, meningkatnya koordinasi dan komitmen lintas sektor dalam kesiapsiagaan bencana, meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap risiko dan langkah mitigasi bencana, serta semakin luasnya sosialisasi kapasitas dan kesiapan peralatan penanggulangan bencana.
“Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa semangat gotong royong dan kolaborasi merupakan fondasi utama dalam membangun Indonesia yang lebih tangguh menghadapi bencana,” pungkasnya.
