download
Decoration

IDM Resmikan Pembangunan Rumah Layak Huni di Borobudur Jawa Tengah

Siswanto, ayah tiga anak yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima, bercerita kondisi rumahnya sebelum direnovasi. Rumah warisan keluarga yang telah berusia lebih dari 100 tahun itu sebelumnya nyaris tak layak dihuni. Atap bocor, lantai tanah, dan banyak tikus membuat Siswanto lebih sering meninggalkan rumahnya. 

“Kendalanya banyak, karena rumahnya rawan dengan rayap. Ketika saya balik itu rumahnya sudah banyak rayap. Ketika hujan banyak bocornya. Tempat tidur cuman satu udah dimakan rayap lagi,’ jelasnya.

Dirinya bersyukur dengan bantuan renovasi rumah dari InJourney Destination Management. Bantuan renovasi rumah berukuran 6×6 meter ini merupakan kado istimewa di masa tuanya. Renovasi dimulai dengan peletakan batu pertama pada 1 Oktober 2025 dan rampung pada 10 November 2025 menjadi renovasi besar pertama sejak rumah itu berdiri.

“Di usia saya yang sudah 74 tahun ini, memiliki rumah yang kokoh dan sehat adalah impian pribadi. Dulu rumah saya jauh dari kata layak, tapi berkat bantuan dari PT TWC, saya bisa beristirahat dengan tenang tanpa takut atap bocor atau dinding rapuh. Saya sangat bersyukur masih diperhatikan dan diberikan tempat berteduh yang baik di hari tua saya ini,” jelasnya.

Direktur Utama IDM, Febrina Intan menjelaskan, program RTLH merupakan bagian dari upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar destinasi wisata, termasuk Borobudur. Program renovasi RTLH, lanjut dia, dilakukan di banyak destinasi, tidak hanya di Borobudur.

“Setiap rumah yang direnovasi menghabiskan anggaran Rp 50 juta hingga Rp 60 juta. Dana tersebut digunakan untuk memperbaiki struktur bangunan secara menyeluruh. Mulai dari lantai berkeramik, kamar mandi layak, akses air bersih, hingga sambungan listrik,” jelasnya.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji mengapresiasi langkah IDM yang turut berkontribusi dalam mengentaskan permasalahan sosial, terutama penyediaan rumah layak huni bagi masyarakat Borobudur. 

“Harapan saya nanti kita bisa sinergi untuk mengentaskan masyarakat tak mampu, terutama terkait rumah, karena rumah menjadi kebutuhan dasar masyarakat,” jelasnya.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji mendorong agar pendataan RTLH di Desa Borobudur dan wilayah sekitarnya dilakukan lebih sistematis, lengkap dengan pemeringkatan tingkat kebutuhan. Data tersebut diharapkan menjadi dasar kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah, DPRKP, maupun IDM.

Grengseng menegaskan, pengentasan RTLH tidak bisa dibebankan pada satu pihak. Pemerintah daerah, pengelola destinasi, dan masyarakat harus berjalan bersama agar dampak keberadaan Borobudur benar-benar dirasakan warga sekitar.

“Saya meminta kepada Camat Borobudur, khususnya di Desa Borobudur ini ada berapa rumah yang tidak layak bisa diranking. Nanti kita pikirkan bersama-sama dengan TWC untuk solusi ke depan,” ujarnya.

Sejak program ini digulirkan, InJourney Destination Management telah menghadirkan 52 rumah layak huni di DIY dan Jawa Tengah, dengan rincian, Kabupaten Magelang sebanyak 18 rumah, Kabupaten Klaten 15 rumah, Kabupaten Sleman sebanyak 10 rumah dan Kabupaten Gunungkidul sebanyak 9 rumah.

“Komitmen keberlanjutan tidak hanya berfokus pada pelestarian fisik candi, tetapi juga pada penguatan Ekosistem Pariwisata Berkelanjutan. Bagi kami, keberhasilan sebuah destinasi wisata diukur dari seberapa besar dampak positif yang dirasakan oleh warga yang tinggal di sekitarnya,” pungkas Febrina Intan.