Candi Prambanan Sambut Duo Presenter DVET Pecahkan Rekor Siniar Terlama di Indonesia
Candi Prambanan menjadi saksi keberhasilan Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik (DVET) memecahkan rekor siniar atau podcast tanpa henti selama 13 jam dari Jakarta sampai ke Candi Prambanan, Selasa (10/3/2026). Siaran langsung siniar yang menggandeng Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) secara resmi dicatat oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
CEO Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha mengatakan bahwa keberhasilan dari siniar selama 13 jam ini merupakan bukti kestabilan jaringan internet di berbagai wilayah yang dilintasi oleh rombongan selama perjalanan menggunakan bus ini.
“Ini bukan sekadar trofi. Ini adalah simbol kesiapan, ketahanan, dan kerja keras yang ditunjukkan selama 13 jam terakhir,” ungkap CEO Indosat Ooredoo Hutchison, Vikram Sinha.
Keberhasilan ini juga menunjukkan bagaimana kreativitas dapat berpadu dengan teknologi untuk menciptakan pengalaman digital yang unik. Vikram juga menilai keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan berbagai mitra teknologi global, seperti Nokia dan Huawei yang membantu memastikan performa jaringan tetap optimal.
“Indosat tidak bisa mencapai semua ini sendirian. Ini adalah contoh nyata gotong royong dan kerja sama tim,” kata Vikram.
Duo penyiar Dave Hendrik dan Iwet Ramadhan menilai kesuksesan Rekor MURI ini tidak lepas dukungan berbagai pihak. Bagi mereka, ini bukan hanya pemecahan rekor, tapi pembuktian diri sebagai podcaster. Ia pun terkesan dengan jaringan Indosat yang tidak terganggu selama podcast.
“Semua support membuat pencapaian hari ini bersama. Kami sangat senang,” jelas Dave Hendrik.
Direktur Operasi InJourney Destination Management, Indung Purwita Jati, yang turut menyambut rombongan Indosat dan DVET, menyampaikan apresiasi terhadap keberhasilan duo presenter ini.
“Ini luar biasa, menyambut satu perjalanan yang unik. Tidak hanya diukur panjang lintasan, berapa liter bensin, tapi juga napas cerita dan koneksi yang tidak putus-putus,” ucap Indung.
Indung juga mengatakan bahwa Candi Prambanan tidak hanya tumpukan batu bersejarah, tapi juga menjadi simbol koneksi.
“Koneksi antara manusia dengan penciptanya, antara sesama manusia, dan manusia dengan alam,” pungkasnya.
