InJourney Destination Management Perkuat Budaya Keramahtamahan melalui InJourney Hospitality House di Kalasan Sleman
InJourney Destination Management (IDM) menghadirkan program InJourney Hospitality House bagi 60 pelaku wisata dari Desa Tamanmartani, Selomartani, dan Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 19–21 Mei 2026 ini merupakan komitmen IDM dalam meningkatkan kualitas layanan pariwisata melalui keramahtamahan khas lokal sekaligus memperkuat kesiapan destinasi penyangga kawasan Candi Prambanan dalam menyambut wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kegiatan tanggung jawab sosial dan lingkungan ini dirancang secara terukur dan berkelanjutan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai standar keramahtamahan (hospitality) sebagai salah satu fondasi utama dalam pengembangan destinasi wisata yang berkualitas.
Direktur Operasi InJourney Destination Management Indung Purwita Jati, mengatakan bahwa InJourney Hospitality House merupakan salah satu bentuk kontribusi perusahaan dalam memperkuat kapasitas masyarakat di sekitar destinasi yang dikelola.
“Penyelenggaraan pelatihan ini sebagai bagian dari komitmen kami dalam menghadirkan program CSR yang terukur, terarah, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Melalui ini kami berupaya memperkenalkan sekaligus memperkuat standar keramahtamahan bagi para pelaku wisata dan masyarakat di sekitar destinasi,” jelasnya.
Menurut Indung, budaya pelayanan yang baik menjadi faktor penting dalam membangun pengalaman wisata yang berkesan. Oleh karena itu, program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan pelayanan, tetapi juga mendorong tumbuhnya kesadaran bersama mengenai pentingnya hospitality dalam ekosistem pariwisata.
“Kami ingin membangun budaya pelayanan yang ramah, profesional, dan berkesan bagi setiap wisatawan yang berkunjung ke kawasan Prambanan dan sekitarnya. Program ini memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam mendukung pengembangan ekosistem pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. Kami mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi memperkuat nilai-nilai keramahtamahan serta bersama-sama menciptakan pengalaman wisata yang aman, nyaman, dan berkesan,” tambahnya.
Ia berharap peningkatan kualitas pelayanan di destinasi wisata di kawasan Tamanmartani, Selomartani, dan Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, dapat mendorong semakin banyak wisatawan untuk menjelajahi destinasi-destinasi penyangga di sekitar Candi Prambanan.
“Dengan pelayanan yang semakin baik dan ramah, kami berharap kawasan ini semakin dikenal dan diminati wisatawan domestik maupun mancanegara sehingga mampu memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Lurah Tamanmartani Gandang Hardjanata menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, Kalasan memiliki posisi strategis dalam pengembangan pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta karena berada di kawasan timur yang selama ini menjadi koridor utama wisata budaya dan warisan dunia.
“Kalasan merupakan kawasan wisata yang memiliki potensi besar untuk berkembang. Kehadiran destinasi unggulan seperti Prambanan menjadi penggerak utama yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Karena itu, pengembangan pariwisata tidak bisa hanya berfokus pada kawasan inti, tetapi juga harus mampu menghidupkan wilayah-wilayah penyangga di sekitarnya,” ujar Gandang.
Ia menilai pendekatan yang dilakukan IDM melalui InJourney Hospitality House menjadi bentuk nyata kolaborasi antara pengelola destinasi dan masyarakat.
“Sekarang orientasinya sudah berubah, bagaimana pariwisata dapat tumbuh bersama masyarakat. Apa yang dilakukan IDM melalui program ini merupakan bentuk berbagi manfaat. Ketika wisatawan berkunjung ke Prambanan, mereka tidak berhenti di satu titik, tetapi juga terdorong untuk menikmati potensi wisata di wilayah sekitar. Karena itu, kualitas pelayanan dan pengalaman wisata harus terus ditingkatkan,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Kus Endarto menegaskan bahwa keberhasilan sebuah destinasi wisata saat ini tidak hanya ditentukan oleh daya tarik yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas pelayanan yang diberikan kepada wisatawan.
“Prambanan merupakan magnet pariwisata yang sangat besar. Namun, kapasitas destinasi utama tentu memiliki batas. Di sekitarnya terdapat banyak potensi wisata lain yang menawarkan pengalaman berbeda dan dapat berkembang apabila didukung sumber daya manusia yang profesional. Karena itu, penguatan kapasitas masyarakat seperti yang dilakukan melalui InJourney Hospitality House menjadi sangat penting,” ujarnya.
Menurut Kus Endarto, Daerah Istimewa Yogyakarta selama ini memiliki modal sosial yang kuat berupa budaya keramahtamahan yang telah dikenal luas oleh wisatawan.
“Wisatawan mengenal Yogyakarta karena keramahtamahannya, kebersihannya, keasriannya, dan kenyamanannya. Tantangan kita adalah bagaimana mempertahankan nilai-nilai tersebut. Kita harus jaga kenangan baik yang dibawa pulang oleh wisatawan,” katanya.
Melalui InJourney Hospitality House, InJourney Destination Management terus mendorong terciptanya ekosistem pariwisata yang kolaboratif, inklusif, dan berkelanjutan. Program ini diharapkan mampu memperkuat kapasitas masyarakat sebagai pelaku utama pariwisata sekaligus meningkatkan daya saing kawasan penyangga destinasi heritage di sekitar Prambanan.
