download
Background Mengenal Sejarah Candi Sewu, Candi Buddha di Prambanan Background Mengenal Sejarah Candi Sewu, Candi Buddha di Prambanan
Decoration Decoration Decoration
sejarah candi sewu

Daftar Isi:

Mengenal Sejarah Candi Sewu, Candi Buddha di Prambanan

Daftar Isi:

Sejarah Candi Sewu menjadi bagian menarik dari perjalanan panjang Jawa pada masa lampau. Berada di kawasan Candi Prambanan, kompleks candi Buddha ini menyimpan jejak sejarah yang membawa pesan toleransi beragama dan keberagaman budaya yang pernah berkembang di Tanah Jawa.

Kemegahan Candi Sewu tidak hanya terlihat dari susunan bangunan dan arsitekturnya, tetapi juga dari kisah di balik pembangunannya. Lantas, di mana lokasi candi Sewu, siapa yang membangunnya, dan apa fungsi candi ini pada masa lalu? Simak penjelasan selengkapnya mengenai sejarah Candi Sewu di bawah ini.

Di Mana Lokasi Candi Sewu?

Di tengah kawasan Candi Prambanan, terdapat sebuah kompleks candi Buddha yang menjadi pengingat bahwa keberagaman telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah Jawa sejak berabad-abad lalu. 

Candi Sewu berdiri tidak jauh dari Candi Prambanan. Keduanya masih dalam satu kompleks, berlokasi di Jl. Raya Solo–Yogyakarta, Kranggan, Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Akses tiket masuk ke Candi Prambanan sudah termasuk Candi Sewu, Bubrah, dan Lumbung. Candi Sewu sendiri berada sekitar 800 meter di utara Candi Prambanan. Kalau mau eksplor Candi Prambanan hingga Candi Sewu lebih nyaman, InJourney Destination Management telah menyediakan wahana yang bisa membuat jelajahmu lebih nyaman, seperti sepeda dan berbagai jenis EV, mulai dari sepeda listrik hingga golf car.

Sejarah Candi Sewu

Candi Sewu adalah kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Candi Borobudur. Diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi, Candi Sewu lebih tua daripada Candi Prambanan yang dibangun pada abad ke-9. 

Berdasarkan Prasasti Manjusrigrha yang bertarikh 792 Masehi, kompleks ini dikenal dengan nama asli Prasada Vajrasana Manjusrigrha. Prasada berarti candi atau kuil, sedangkan Vajrasana memiliki arti tempat Wajra bertakhta. Sementara itu, Manjusrigrha bermakna Rumah Manjusri, yaitu salah satu Bodhisattva dalam ajaran Buddha.

Sejarah Candi Sewu menyimpan cerita panjang tentang kehidupan masyarakat Jawa pada masa lampau. Dari sosok yang membangunnya, bentuk dan susunan kompleks candi, hingga fungsi yang dimilikinya, setiap bagian menjadi jejak yang membantu memahami peran Candi Sewu pada masanya.

Untuk mengenalnya lebih jauh, berikut perjalanan Candi Sewu yang dapat ditelusuri melalui sejarah pembangunan, struktur, fungsi, hingga penemuannya kembali di era modern.

Siapa yang Membangun Candi Sewu?

Berdasarkan Prasasti Kelurak (782 M) dan Prasasti Manjusrigrha (792 M) yang ditemukan pada tahun 1960, Candi Sewu diperkirakan dibangun pada abad ke-8 Masehi di akhir masa pemerintahan Rakai Panangkaran (raja kedua Kerajaan Mataram Kuno), kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Rakai Panaraban.

Masa kekuasaan Rakai Panangkaran di Mataram Kuno berlangsung selama 38 tahun (746–784 M). Selain Candi Sewu, Rakai Panangkaran juga memprakarsai pembangunan situs bercorak Buddha lainnya, yaitu Candi Kalasan (778) dan Situs Ratu Boko.

Namun, pembangunan Candi Sewu tidak berhenti pada masa kekuasaan Rakai Panangkaran dan Panaraban. Para ahli memperkirakan Candi Sewu sempat dipugar dan diperluas pada masa kekuasaan Rakai Pikatan (raja keempat Kerajaan Mataram Kuno). 

Fakta menariknya, Rakai Pikatan yang berasal dari Dinasti Sanjaya menikah dengan Pramodhawardhani dari Dinasti Syailendra. Hal inilah yang disebut-sebut sebagai motivasi Rakai Pikatan memugar Candi Sewu, sebagai bentuk toleransi kepada istrinya.

Pada akhirnya, pernikahan ini juga berdampak positif terhadap toleransi beragama antara pemeluk Hindu dan Buddha di Jawa pada masa itu.

Baca juga: Menguak Mitos Keraton Ratu Boko, Legenda atau Fakta Sejarah?

Struktur Candi Sewu

Candi Sewu berasal dari istilah Jawa yang artinya “seribu”. Namun, jumlah keseluruhan candi ini sebenarnya hanya 249, terdiri dari 1 candi induk, 8 candi apit, dan 240 candi perwara. Selain bangunan candi, terdapat juga 8 arca Dwarapala. Masing-masing pintu masuk memiliki dua arca Dwarapala.

Candi induk berdiri di tengah kompleks dan memiliki empat pintu yang terbagi sesuai arah mata angin. Candi ini memiliki lima ruangan, terdiri dari bilik utama yang dikelilingi oleh empat ruangan. Dilihat dari denah dasarnya, pembangunan candi ini mengikuti pola vajradhatu mandala.

Candi induk yang berada di tengah kompleks dikelilingi oleh empat baris candi perwara, serta delapan candi apit yang terletak di antara baris kedua dan ketiga candi perwara.

Kosmologi Candi Sewu

Secara umum, kosmologi diartikan sebagai gambaran semesta. Berdasarkan kosmologi Hindu-Buddha, pusat alam semesta berada di Gunung Mahameru, dikelilingi oleh 7 samudra dan 7 benua yang digambarkan sebagai Meru. Kemudian, di luar ring tersebut, terdapat empat benua di masing-masing arah mata angin. Dalam kosmologi ini, tempat tinggal manusia berada di benua selatan yang disebut Jambudvipa.

Dalam kosmologi Candi Sewu, candi induk yang berada di tengah kompleks melambangkan Meru (pusat dunia). Sementara itu, pagar dan candi perwara melambangkan tujuh benua, sedangkan lorong di antara candi perwara melambangkan tujuh samudra.

Lalu, keempat benua di luar ring diwakili oleh Candi Kulon (barat), Candi Lor (utara), Candi Gana (timur), dan Candi Bubrah (selatan).

Apa Fungsi Candi Sewu di Masa Lampau? 

Pengaruh agama Buddha pada era pemerintahan Rakai Panangkaran di Mataram Kuno sangat kuat. Berdasarkan Prasasti Kelurak dan Manjusrigrha, pembangunan Candi Sewu oleh Rakai Panangkaran ditujukan untuk pemujaan terhadap Dewa Manjusri.

Manjusri merupakan Bodhisattva, yaitu manusia yang telah mencapai Kebuddhaan sehingga diizinkan menuju Nirwana. Namun, kasih sayangnya terhadap manusia membuatnya tetap bertahan di dunia untuk membantu umat manusia mencapai Kebuddhaan.

Manjusri digambarkan dengan satu wajah, dua tangan, dan sikap duduk bersila sembari membawa teratai yang di atasnya terdapat buku. Kemudian, tangan kanannya bersikap Varada (memberi anugerah).

Hal tersebut tertulis pada baris 9–10 Prasasti Manjusrigrha yang berbunyi, “Bangunan suci ini merupakan persembahan mulia Sri Nareswara yang telah menjelma ke alam kedewaan.” Kalimat ini menggambarkan Rakai Panangkaran yang sudah meninggal tahun 792 Masehi.

Kini, fungsi utama Candi Sewu yang berada di kompleks Candi Prambanan berkaitan dengan pelestarian, edukasi, penelitian, dan pariwisata budaya. Candi Sewu juga menjadi bagian Prambanan Temple Compounds, yang ditetapkan UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia sejak 13 Desember 1991.

Baca juga: Kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang, Cinta yang Tragis

Penemuan dan Pemugaran Candi Sewu di Era Modern

Candi Sewu pertama kali ditemukan oleh Cornelius Antonie Lons, seorang pedagang berkebangsaan Belanda, pada tahun 1733 dalam kondisi rusak dan tertimbun abu vulkanik serta semak-semak. Kemudian, pada tahun 1806–1807, Herman C. Cornelius, seorang arkeolog Belanda, melakukan penelitian terhadap salah satu candi perwara.

Tahun 1981, pemerintah Republik Indonesia memulai pemugaran pertama Candi Sewu. Proses pemugaran ini selesai tahun 1993. Setelah itu, Candi Sewu kembali mengalami kerusakan akibat gempa dan letusan Gunung Merapi pada tahun 2006.

Hingga kini, pemerintah berkomitmen untuk mengakselerasi pemugaran Candi Sewu dan Candi Prambanan. Hal ini bertujuan untuk melestarikan cagar budaya sekaligus menjadikannya sebagai pusat kebudayaan yang berdampak positif bagi masyarakat.

Rencanakan Kunjunganmu ke Candi Sewu Sekarang Juga!

Kalau ingin menikmati suasana kawasan Candi Prambanan dengan pengalaman yang berbeda, Candi Sewu bisa menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Terlebih pada hari Senin, ketika area tiga candi utama atau kompleks Candi Trimurti ditutup untuk pemeliharaan, kamu tetap dapat menjelajahi kawasan Candi Sewu dan melihat lebih dekat kemegahan kompleks candi Buddha yang berada tidak jauh dari Prambanan.

Jangan lewatkan kesempatan untuk mengenal Candi Sewu dari sisi sejarah, arsitektur, hingga makna kosmologinya. Rencanakan kunjunganmu dan nikmati perjalanan menyusuri salah satu warisan budaya penting di kawasan Prambanan.

Segera amankan tiket masuk ke Taman Wisata Candi Prambanan sekarang juga yang bisa dibeli melalui laman tiket resmi InJourney Destination Management. Kamu juga bisa memanfaatkan promo PAYDAY TREAT: Buy 1 Get 1 untuk mendapatkan diskon 50% bagi pembelian dua tiket. Yuk, jangan sampai ketinggalan promo spesialnya!

Baca juga: Ungkap Mitos Candi Prambanan, Benarkah Pasangan Bisa Putus?