download
Decoration

Kementerian Kebudayaan Alih Fungsikan Anjungan Timor Timur di TMII Menjadi Simbol Diplomasi RI–Timor Leste 

Rencana Besar untuk Taman Mini Indonesia Indah (TMII) mencuat saat Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon berkunjung ke kawasan tersebut. Fokus utama kunjungan ini adalah upaya revitalisasi dan alih fungsi Anjungan Timor Timur, bangunan peninggalan dekade 1980-an, menjadi Museum Persahabatan dan Diplomasi antara Indonesia dengan Timor Leste. 

Kunjungan tersebut turut dihadiri jajaran Kementerian Kebudayaan, di antaranya Direktur Jenderal Pemajuan Kebudayaan Restu Gunawan. Dari pihak pengelola kawasan, hadir  Direktur Operasi InJourney Destination Management Indung Purnama Jati dan Direktur Utama TMII Ratri Paramita, didampingi perwakilan Yayasan Purna Bhakti Pertiwi bersama Wakil Direktur Museum Indrawati serta Kurator Museum Gunawan.

Anjungan Timor Timur menyimpan nilai historis yang terlalu berharga. Kementerian Kebudayaan berupaya menjadikannya sebagai ruang diplomasi antarnegara. Sementara, proses transformasi ini akan melibatkan pakar kebudayaan dan sejarawan untuk mematangkan konsep. 

Menteri Kebudayaan RI berencana untuk menghadirkan artefak dari wilayah Atambua dan Belu di NTT, daerah yang punya kedekatan kultural dengan Timor Leste, sebagai bagian dari upaya menyampaikan kisah persahabatan antarnegara secara edukatif. 

Setelah berkunjung ke Anjungan Timor Timur, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dilanjutkan dengan peninjauan kedua museum yang membutuhkan arahan modernisasi. Museum Perangko diarahkan pada penataan ulang tata pamer serta percepatan proses digitalisasi. 

Sementara, Museum Pusaka direncanakan mendapatkan sentuhan teknologi imersif untuk penyampaian narasi interaktif, dilengkapi instalasi panel surya sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan. Area lokakarya pembuatan keris yang selama ini tertutup untuk pengunjung turut direncanakan dibuka sebagai ruang atraksi edukatif (showcase). 

Titik akhir kunjungan adalah Museum Purna Bhakti Pertiwi, bangunan yang didedikasikan untuk mengenang Presiden Soeharto. Museum ini menyimpan koleksi lebih dari 20 ribu artefak, mulai dari rekam jejak perjuangan hingga cenderamata dari berbagai pemimpin dunia. 

Besarnya nilai historis mendorong Menbud agar museum yang telah lama ditutup untuk bisa diakses kembali, dengan syarat penataan ulang dan konservasi secepat mungkin. 

“Langkah revitalisasi ini memastikan tidak ada museum dan anjungan yang mangkrak”, pungkas Fadli Zon.