Semarak Budaya Borobudur Gita Nritya Aradhana Hadirkan Perpaduan Seni Tradisi dan Kreativitas Lokal
Kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menghadirkan ruang apresiasi seni dan budaya melalui Semarak Budaya Borobudur Gita Nritya Aradhana yang digelar di Museum Kampung Seni Borobudur, Minggu (18/10/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 14.30 WIB ini menghadirkan beragam pertunjukan seni tari, musik keroncong, flashmob, serta kesenian tradisional dari sejumlah sanggar dan komunitas lokal.
Mengusung tema Gita Nritya Aradhana yang terinspirasi dari Relief Karmawibhangga panel 125 Candi Borobudur, kegiatan ini memaknai tarian dan nyanyian sebagai bentuk persembahan untuk kebaikan bersama. Konsep tersebut menjadi upaya untuk menghubungkan nilai-nilai warisan budaya masa lalu dengan ekspresi seni dan kreativitas masyarakat masa kini.
Ketua Panitia Muhammad Jafar Qoir mengatakan, kegiatan ini dirancang sebagai ruang bagi para seniman di kawasan Borobudur untuk mengekspresikan karya sekaligus memperluas apresiasi masyarakat terhadap seni budaya lokal.
“Acara ini menjadi wadah apresiasi bagi seniman-seniman di kawasan Borobudur untuk bisa mengekspresikan diri,” ujarnya, Jumat (16/10/2026).
Semarak Budaya Borobudur diinisiasi oleh dua komunitas lokal, yakni Lemah Urep dan Aksaya Budaya Buduran. Dengan dukungan Kementerian Kebudayaan dan Taman Wisata Borobudur, kegiatan ini melibatkan puluhan sanggar dan komunitas, termasuk komunitas lari.
Salah satu penampilan yang dihadirkan adalah karya tari dan musik bertajuk Darmo Projo Jaya Negara dari Sanggar Sagha Candrawara, Candirejo. Karya yang dibawakan oleh seniman muda tersebut mengangkat kisah prajurit penjaga perbatasan yang berupaya menjaga kedamaian dan keselarasan alam.
Ketua Sanggar Sagha Candrawara Muhammad Cahya Wicaksana menjelaskan bahwa karya tersebut memadukan unsur tradisional dan semi-kontemporer agar dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
“Konsepnya tradisional dan semi-kontemporer, harapannya bisa dinikmati semua kalangan,” ungkapnya.
Ketua Aksaya Budaya Buduran Zulfikar Maulana Malik menilai kegiatan ini dapat menjadi ruang bersama bagi masyarakat dari 20 desa di Kecamatan Borobudur. Selain mempererat hubungan antarkomunitas, kegiatan tersebut diharapkan mampu memperkuat semangat gotong royong dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal.
Semarak Budaya Borobudur juga mengedepankan prinsip ramah lingkungan dalam penyelenggaraannya. Penggunaan banner cetak diminimalkan, sementara elemen visual panggung memanfaatkan material lokal seperti bambu dan jerami padi.
Customer Experience Division Head PT Taman Wisata Borobudur Didik Ardianto mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, Kampung Seni Borobudur memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai destinasi budaya, didukung fasilitas amphitheater berkapasitas sekitar 700 penonton serta latar perbukitan Menoreh yang menjadi daya tarik tersendiri. Menurutnya, Semarak Budaya Borobudur dapat berkembang menjadi agenda kesenian berkelanjutan yang berangkat dari kekuatan lokal dan berpotensi dikenal lebih luas.
“Kalau di Yogyakarta ada Festival Kesenian Yogyakarta, kiranya ini menjadi rintisan. Dalam jangka panjang, kita bisa menyamai kegiatan kesenian berskala lokal yang dikenal hingga tingkat dunia,” katanya.
Lebih lanjut, penyelenggaraan kegiatan seni dan budaya di Kampung Seni Borobudur diharapkan dapat memperkaya pengalaman wisatawan sekaligus mendorong peningkatan lama tinggal (length of stay) di kawasan Borobudur.
Kunjungan wisata tidak hanya berfokus pada destinasi utama, tetapi juga memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk menikmati pertunjukan seni, mengenal budaya setempat, dan berinteraksi dengan komunitas lokal.
Melalui Semarak Budaya Borobudur Gita Nritya Aradhana, Kampung Seni Borobudur diharapkan semakin berkembang sebagai ruang ekspresi seniman, wadah kolaborasi masyarakat, serta bagian dari penguatan ekosistem pariwisata budaya yang berkelanjutan.
