download
Decoration

InJourney Community Care Hadirkan Pelatihan Fotografi bagi Juru Foto di Destinasi Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko

InJourney Destination Management (IDM) melalui program InJourney Community Care menyelenggarakan pelatihan fotografi bagi para juru foto di kawasan Taman Wisata Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Keraton Ratu Boko. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya IDM dalam meningkatkan kapasitas SDM pariwisata sekaligus memperkuat kualitas pelayanan di destinasi warisan dunia.

Pelatihan ini diikuti oleh 76 anggota Koperasi Pariwisata (Kopari) Borobudur dan 32 anggota Koperasi Pariwisata Fotografer Prambanan (Kopapra) yang selama ini menjadi bagian penting dalam ekosistem pelayanan wisata di kawasan Taman Wisata Candi. 

General Manager Prambanan dan Ratu Boko Leonardus Adityo Nugroho mengatakan bahwa fotografi memiliki peran strategis dalam industri pariwisata modern karena tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi, tetapi juga menjadi medium yang mampu menghadirkan pengalaman dan cerita bagi wisatawan.

“Fotografi tidak sekadar menghasilkan dokumentasi, tetapi merupakan media yang mampu menghadirkan cerita, membangun citra destinasi, serta memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada dunia. Setiap foto yang dihasilkan dapat menjadi jendela yang menghubungkan wisatawan dengan nilai-nilai sejarah, budaya, dan keindahan yang dimiliki Candi Prambanan,” ujarnya, Rabu (18/6/2026).

Pemateri pelatihan fotografi juru foto Prambanan adalah fotografer Harian Kompas Ferganata Indra. Sementara pemateri pelatihan fotografi juru foto Borobudur adalah fotografer Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA Anis Efizudin.

Selain materi fotografi, peserta juga mendapat materi terkait pelayanan prima (hospitality) yang relevan dengan kebutuhan para juru foto wisata saat berinteraksi langsung dengan pengunjung. Pelatihan juga menitikberatkan pada penguatan pelayanan prima, komunikasi dengan wisatawan serta kemampuan membangun narasi visual yang mampu memperkuat citra destinasi.

Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh kesempatan untuk memperbarui pengetahuan, berdiskusi, serta berbagi pengalaman mengenai perkembangan dunia fotografi wisata dan standar pelayanan di destinasi kelas dunia.

Menurut General Manager Prambanan dan Ratu Boko, keberadaan fotografer wisata menjadi salah satu elemen penting yang berinteraksi langsung dengan pengunjung dan turut membentuk pengalaman wisata selama berada di kawasan destinasi.

“Candi Prambanan membutuhkan dukungan para fotografer yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis dalam menghasilkan gambar yang baik, tetapi juga memiliki pemahaman mengenai narasi yang ingin disampaikan melalui setiap karya visual. Melalui pelatihan ini, kami berharap para fotografer dapat semakin memahami bagaimana mengabadikan momen sekaligus menghadirkan cerita yang memperkuat daya tarik destinasi,” tambahnya.

Commercial Group Head PT Taman Wisata Borobudur AY Suhartanto mendorong peserta untuk aktif berdiskusi selama pelatihan agar dapat saling bertukar pengalaman dan memperkaya wawasan mengenai pelayanan wisata yang berkualitas.

“Selain kemampuan fotografi, aspek hospitality juga menjadi hal yang sangat penting. kami berharap para juru foto wisata dapat kembali me-refresh dan mengingat peran serta fungsinya di Borobudur, yaitu menghadirkan kenangan yang berkesan bagi wisatawan. Foto yang dihasilkan bukan sekadar dokumentasi, tetapi menjadi bagian dari pengalaman dan nilai yang dibawa pulang oleh setiap pengunjung,” jelas Suhartanto.

Salah satu anggota Koperasi Pariwisata Fotografer Prambanan, Budaya, mengatakan bahwa pelatihan ini memberikan wawasan baru yang dapat meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus profesionalisme para fotografer wisata. 

“Melalui pelatihan ini kami mendapatkan banyak pengetahuan baru yang dapat menunjang kinerja kami dalam melayani wisatawan yang datang ke Candi Prambanan. Kami ingin memberikan pelayanan terbaik sehingga pengunjung merasa puas dan memiliki pengalaman yang menyenangkan selama berada di sini,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi fotografer wisata saat ini adalah meningkatnya ekspektasi wisatawan terhadap kualitas layanan dan hasil foto yang diterima.

“Pelatihan ini membantu kami memahami kelebihan dan kekurangan yang ada. Evaluasi tersebut menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas pelayanan, mulai dari cara menyambut wisatawan, berkomunikasi, bersikap sopan, hingga memberikan informasi yang jelas mengenai layanan fotografi. Harapannya, wisatawan merasa nyaman, betah, dan ingin kembali berkunjung ke Candi Prambanan,” ujarnya.

Ketua Koperasi Pariwisata Fotografer Prambanan (Kopapra) R Jarot Wuryanto, menjelaskan bahwa profesi fotografer wisata di kawasan Prambanan telah berkembang selama lebih dari tiga dekade dan terus beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi.

“Fotografer wisata di Prambanan sudah ada sejak tahun 1994. Saat itu kami masih menggunakan kamera analog dan polaroid. Perkembangan teknologi kemudian mendorong kami beralih ke sistem digital sejak akhir 1990-an. Setiap perubahan teknologi selalu kami ikuti melalui berbagai pelatihan agar para anggota dapat terus berkembang,” jelasnya.

Hingga saat ini, Kopapra memiliki 32 anggota yang dibagi dalam dua zona pelayanan di kawasan wisata. Kopapra memiliki keanggotaan dengan rentang usia anggota mulai dari 19 tahun hingga 70 tahun. Sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas layanan, Kopapra juga berencana melakukan pembaruan peralatan fotografi secara bertahap yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen saat ini.

“Regenerasi menjadi salah satu fokus kami. Anggota termuda saat ini berusia 19 tahun, sementara yang paling senior sekitar 70 tahun. Tantangan terbesar yang kami hadapi adalah mengikuti perkembangan teknologi, tren fotografi, dan gaya visual yang terus berubah. Karena itu peningkatan kompetensi menjadi kebutuhan yang sangat penting,” katanya.

Anggota Koperasi Pariwisata (Kopari) Borobudur Aan Suyitno menyambut positif dan menyampaikan apresiasi kepada InJourney Destination Management dan para tutor yang telah memberikan ruang pembelajaran bagi para fotografer wisata.

“Kami sangat berterima kasih kepada InJourney dan para tutor yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berdiskusi mengenai fotografi maupun pelayanan kepada wisatawan. Mudah-mudahan ilmu yang kami peroleh dapat bermanfaat dan meningkatkan kualitas kerja kami di lapangan,” kata Aan.

Aan menjelaskan bahwa keberadaan komunitas fotografer wisata di Borobudur telah berkembang selama puluhan tahun. Awalnya para fotografer tergabung dalam sebuah paguyuban bernama Bina Sejahtera sebelum kemudian bergabung dengan KUD Borobudur. 

Seiring perkembangan organisasi, muncul gagasan untuk mendirikan koperasi sendiri yang kemudian berdiri pada tahun 1996 dengan nama Koperasi Pariwisata Catra Gemilang Borobudur.

“Saat ini unit fotografer di bawah Koperasi Pariwisata Catra Gemilang Borobudur berjumlah 76 orang dengan empat anggota cadangan. Regenerasi terus berjalan, bahkan sebagian profesi ini telah diteruskan hingga generasi ketiga. Beberapa perintis masih aktif dan tetap eksis hingga sekarang,” ungkapnya.

InJourney Destination Management berkomitmen memberdayakan komunitas di sekitar destinasi melalui berbagai pelatihan dan program pengembangan kapasitas sumber daya masyarakat. Diharapkan, peningkatan kompetensi para juru foto wisata ini tidak hanya menghasilkan layanan yang lebih profesional, tetapi juga turut memperkuat pengalaman wisatawan dan citra positif Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko sebagai destinasi warisan budaya dunia yang berkualitas.