PT TWC dan Basarnas Perkuat Kesiapsiagaan Penanganan Bencana di Candi Prambanan
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) DI Yogyakarta bersama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko serta Museum dan Cagar Budaya (MCB) mengadakan agenda pelatihan dan simulasi penanganan bencana di kawasan Candi Prambanan.
Kegiatan dari tanggal 3–4 September 2026 ini merupakan upaya memperkuat koordinasi serta kapasitas seluruh pemangku kepentingan dalam memberikan respons yang cepat, tepat, dan terkoordinasi pada saat terjadi bencana yang mengancam keselamatan wisatawan maupun masyarakat di kawasan destinasi pariwisata super prioritas Candi Prambanan.
General Manager Prambanan dan Ratu Boko Leonardus Adityo Nugroho mengatakan aspek keselamatan menjadi salah satu prioritas utama dalam pengelolaan destinasi, terlebih Candi Prambanan merupakan kawasan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia.
Menurutnya, aspek kesiapsiagaan menjadi semakin penting karena kawasan Prambanan berada di wilayah yang memiliki potensi risiko kebencanaan. Salah satunya berkaitan dengan keberadaan Sesar Opak yang berada di sekitar kawasan tersebut.
“Sebagai pengelola yang mengutamakan keselamatan dan kepuasan pelanggan, kami berterima kasih atas pelatihan yang diberikan Basarnas. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan, kesiapsiagaan, dan koordinasi seluruh pihak apabila terjadi situasi kedaruratan,” katanya.
Direktur Kesiapsiagaan Basarnas Noer Isrodin M mengatakan kegiatan pelatihan dan simulasi tersebut merupakan bagian dari komitmen Basarnas dalam memperkuat aspek keselamatan sektor pariwisata, khususnya pada destinasi yang memiliki potensi risiko kebencanaan.
Menurut Noer, simulasi dilakukan untuk menyusun dan menyepakati kembali prosedur operasi standar (SOP) penanganan kedaruratan, khususnya bagi wisatawan ketika terjadi kondisi yang mengancam keselamatan jiwa.
“Tujuan dari kegiatan simulasi ini adalah menyepakati dan menyusun kembali SOP penanganan kedaruratan, khususnya bagi para pengunjung wisata manakala terjadi kondisi darurat,” ujar Noer.
Ia menjelaskan, sejumlah potensi kedaruratan yang perlu diantisipasi di kawasan Candi Prambanan antara lain gempa bumi, erupsi gunung api, serta berbagai kecelakaan atau insiden yang membutuhkan respons cepat.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan melibatkan berbagai unsur, mulai dari pengelola Taman Wisata Candi Prambanan, Basarnas, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Museum dan Cagar Budaya, PMI serta TNI dan Polri sesuai kebutuhan penanganan di lapangan.
Direktur Kesiapsiagaan Basarnas menekankan pentingnya kesamaan persepsi antarinstansi dalam menghadapi kondisi darurat. Menurutnya, keberadaan SOP yang jelas akan memastikan setiap pihak memahami peran, kewenangan, serta mekanisme koordinasi masing-masing.
“Mudah-mudahan dari kegiatan ini bisa ditetapkan satu prosedur yang baku dan dipedomani semua pemangku kepentingan, sehingga ketika terjadi situasi darurat semua bisa bekerja bersama-sama dalam satu komando, satu data, dan tindakan yang cepat serta tepat untuk menyelamatkan jiwa manusia yang terdampak,” katanya.
Pengelola destinasi memiliki peran penting sebagai pihak yang melakukan respons awal ketika terjadi kondisi darurat di kawasan wisata. Apabila situasi berada di luar kapasitas pengelola, Basarnas bersama unsur SAR lainnya dapat memberikan dukungan melalui sumber daya manusia, peralatan, serta sistem komando yang lebih luas.
“Jika terjadi bencana, yang pertama merespons tentunya adalah otoritas pengelola wisata. Karena ini merupakan kawasan terbatas, pengelola menjadi pihak yang paling awal mengetahui dan menangani kejadian. Jika sudah berada di luar kapasitas penanganan, tentu akan ada intervensi dari Basarnas,” jelasnya.
Selain memperkuat SOP, Noer juga menyoroti pentingnya penerapan sistem komando dan penggunaan data tunggal dalam penanganan kedaruratan. Hal tersebut diperlukan untuk menghindari tumpang tindih kewenangan maupun tindakan di lapangan.
Penguatan aspek keselamatan merupakan bagian penting dari keberlanjutan sektor pariwisata. Penanganan keselamatan wisatawan memiliki dampak yang lebih luas terhadap citra dan reputasi pariwisata Indonesia. Karena itu, sistem keselamatan yang kuat perlu dibangun melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
“Semangat kita adalah membangun kolaborasi bersama untuk memperkuat destinasi pariwisata. Kita ingin dukungan yang diberikan ini berdampak terhadap kenyamanan dan keselamatan para pengunjung,” katanya.
Melalui pelatihan dan simulasi bersama ini, PT TWC dan Basarnas DIY berharap terbentuk kesiapsiagaan yang lebih kuat di kawasan Candi Prambanan. Tidak hanya dari sisi kemampuan teknis, tetapi juga melalui koordinasi, komunikasi, pembagian peran, serta kesamaan prosedur antarinstansi.
Upaya tersebut sekaligus menegaskan komitmen PT TWC untuk menghadirkan pengalaman berwisata yang aman dan nyaman, sekaligus memastikan pelestarian kawasan cagar budaya berjalan beriringan dengan penguatan aspek keselamatan dan kesiapsiagaan bencana.
