download
Decoration
prasasti ratu boko

Isi Prasasti Ratu Boko, Peninggalan dari Masa Mataram Kuno

Situs Ratu Boko dipercaya dibangun oleh Prabu Boko, ayah dari Roro Jonggrang. Dengan kata lain, legenda meyakini bahwa Keraton Ratu Boko merupakan istana tempat tinggal Roro Jonggrang. Namun, apakah hal ini dapat dibuktikan oleh sejarah?

Memahami prasasti Ratu Boko dapat membantumu menemukan jawaban mengenai sejarah situs megah ini. Situs yang telah dibangun sejak zaman Mataram Kuno ini diyakini dulunya bernama Abhayagiriwihara sesuai dengan nama prasasti yang mencatat sejarah pembangunannya. Yuk, simak penjelasan selengkapnya mengenai prasasti Ratu Boko dalam ulasan di bawah ini.

Benarkah Keraton Ratu Boko adalah Rumah Roro Jonggrang?

Berdasarkan legenda, Keraton Ratu Boko adalah istana Ratu Boko, ayah dari Roro Jonggrang. Bukan tanpa alasan, struktur megah yang berdiri di atas bukit ini memiliki beberapa bagian layaknya tempat tinggal, mulai dari ditemukannya keputren, paseban dan pendapa, hingga gapura utama yang tampak seperti pintu masuk.

Karena lokasinya yang berdekatan dengan Candi Prambanan, legenda kedua situs bersejarah ini juga saling berkaitan. Legenda ini juga menyebutkan bahwa Ratu Boko adalah raja raksasa yang sering memakan manusia. Hal ini tentunya memicu keresahan banyak orang yang kemudian membuat penguasa kerajaan tetangga mengirim putranya, Bandung Bondowoso, untuk menyerang Ratu Boko.

Bandung Bondowoso memenangkan pertempuran tersebut dengan tewasnya Ratu Boko. Suatu hari, Bandung Bondowoso bertemu dan jatuh cinta pada Roro Jonggrang yang ternyata merupakan putri dari Prabu Boko. Namun, Roro Jonggrang menolak cinta Bandung Bondowoso karena ia tidak mau menikah dengan orang yang sudah membunuh ayahnya.

Penolakan tersebut tidak dikatakan secara langsung, melainkan dengan membuat persyaratan yang kiranya tidak bisa dipenuhi Bandung Bondowoso, yaitu membuat seribu candi dalam semalam dan harus diselesaikan sebelum subuh.

Bandung Bondowoso menyanggupinya dan meminta bantuan pasukan ghaib untuk menyelesaikan pembangunan seribu candi tersebut. Melihat hal ini, Roro Jonggrang menjadi khawatir dan memanipulasi Bandung Bondowoso dengan mengajak para gadis memukul lesung agar ayam mulai berkokok, di mana hal ini menandakan bahwa batas waktu telah terlewat. 

Karena hal tersebut, Bandung Bondowoso hanya berhasil menyelesaikan 999 candi. Karena merasa tertipu, Bandung mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu untuk melengkapi seribu candi tersebut. Hal ini sekaligus menjadi legenda berdirinya Candi Prambanan.

Tapi, seperti yang kamu tahu, legenda hanya sebatas daya tarik yang tidak mendasari sejarah berdirinya situs Ratu Boko. Fakta sejarahnya, struktur kuno ini dibangun pada abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra.   

Baca juga: Ungkap Mitos Candi Prambanan, Benarkah Pasangan Bisa Putus?

Prasasti Ratu Boko: Fakta Pembangunan Keraton Ratu Boko

Sejarah mengenai situs Ratu Boko tercatat dalam prasasti Ratu Boko yang dikenal juga sebagai Prasasti Abhayagiri Wihara. Prasasti ini berangka tahun 792 Masehi dan berasal dari masa Kerajaan Medang Mataram. 

Dalam Prasasti Abhayagiri Wihara yang ditulis menggunakan huruf Pranagari, tercatat seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau yang dikenal juga sebagai Rakai Panangkaran serta menyebut suatu kawasan yang bernama Abhayagiri Wihara yang merupakan sebuah wihara di atas bukit.

Tidak hanya Prasasti Abhayagiri Wihara (Prasasti Boko I), di kompleks Keraton Ratu Boko juga ditemukan empat prasasti lainnya, yaitu:

  • Prasasti Boko II: Mencatat tentang pendirian sebuah Lingga oleh Sri Kumbhajaya atau Rakai Walaing Pu Kumbhayoni.
  • Prasasti Boko III (Prasasti Tryambakalingga): Berisi catatan tentang pendirian bangunan pemujaan lingga kepada Dewa Siwa oleh Sri Kumbhajaya.
  • Prasasti Boko IV (Prasasti Haralingga): Menjelaskan tentang pendirian bangunan suci berupa lingga oleh Kalasodbhawa.

Sejarah Keraton Ratu Boko

Berdasarkan Prasasti Abhayagiri Wihara, sejarawan bersepakat bahwa situs Ratu Boko aslinya bernama Abhayagiri Wihara yang dibangun oleh Rakai Panangkaran, raja kedua Kerajaan Medang Mataram. Di sini pula Rakai Panangkaran fokus melakukan meditasi setelah mengundurkan diri dan menghabiskan waktu hingga akhir hayatnya.

Uniknya, nama Abhayagiri Wihara juga menjadi nama salah satu pusat keagamaan Buddha di Sri Lanka. Kompleks wihara tersebut cukup luas dan dihuni oleh ribuan biksu. Dari pusat keagamaan inilah, guru-guru agama Buddha Mahayana diutus keluar dari Sri Lanka. 

Sejarawan J.G. de Casparis yang pernah meneliti prasasti Abhayagiri Wihara menyebutkan terdapat hubungan antara Jawa dan Sri Lanka. Hal ini memunculkan asumsi bahwa pembangunan situs Ratu Boko terinspirasi dari Abhayagiri Wihara yang terdapat di Sri Lanka.

Sekitar setengah abad kemudian, situs Ratu Boko dikuasai oleh Mpu Khumbayoni, yang juga dikenal sebagai Rakai Walaing. Berdasarkan Prasasti Siwagraha, Rakai Walaing melakukan beberapa modifikasi dengan membangun benteng batu di perbukitan yang menimbulkan asumsi bahwa struktur bebatuan yang saat ini ada di situs Ratu boko bukan bentuk asli, melainkan bentuk modifikasi dari Rakai Walaing.

Kekuasaan Mpu Khumbayoni menimbulkan keresahan masyarakat, sehingga mendorong Dyah Lokapala, putra bungsu Rakai Pikatan, memimpin pasukan Medang untuk menyerang Mpu Khumbayoni dan berakhir dengan kekalahan kelompok Mpu Khumbayoni. Kemudian, Dyah Lokapala kembali memfungsikan situs Ratu Boko sebagai tempat ibadah.

Setelah pasukan Medang kembali menguasai situs Ratu Boko, giliran elemen-elemen Mpu Khumbayoni yang dihancurkan. 

Siapa yang Pertama Kali Menemukan Keraton Ratu Boko?

Reruntuhan Keraton Ratu Boko pertama kali ditemukan oleh van Boeckholtz pada tahun 1790 dan pemugarannya dimulai tahun 1938. Pemugaran ini telah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda, dan terus dilakukan pada masa pendudukan Jepang

Menurut penelitian yang dilakukan oleh sejarawan, situs Ratu Boko merupakan pemukiman yang dihuni dalam empat fase, berikut masing-masing penjelasannya:

  • Fase I: Dihuni selama periode 600–825 M. Akhir fase ini diperkirakan satu zaman dengan dibuatnya Prasasti Abhayagiri Wihara (792 M).
  • Fase II: Dihuni selama periode 775/825–1025/1050 M, diperkirakan dihuni oleh penganut Siwasitis. Pada fase ini, situs Ratu Boko dikuasai oleh Rakai Walaing yang merupakan penganut agama Hindu.
  • Fase III: Dihuni selama periode 1025/1050 M – 1250/1400 M.
  • Fase IV: Diperkirakan berlangsung selama periode 1250/1400–1850 M dan menjadi lokasi tidak berpenghuni.

Baca juga: Rekomendasi Tempat Nyore di Jogja Sambil Berburu Sunset

Jejak Peradaban Ratu Boko di Masa Kini

Saat ini, Keraton Ratu Boko dikelola oleh Injourney Destination Management dan menjadi salah satu destinasi sejarah yang sayang untuk dilewatkan kalau kamu berkunjung ke Jogja. Memasuki kawasan situs ini, kamu akan disambut dengan struktur gapura yang megah. Apalagi jika datang di sore hari, kamu bisa mendapatkan view lebih mempesona dengan semburat sinar senja di balik kokohnya dinding gapura.

Terlepas dari sejarahnya, Keraton Ratu Boko adalah situs sejarah yang indah dan mempesona. Setiap jejak reruntuhan yang masih bisa kita lihat sampai saat ini menjadi bukti kemegahan struktur pada zaman itu. Kemegahan struktur, suasana yang tenang, dan panorama alam yang indah di perbukitan membuatmu serasa memasuki dunia fairytale.

Bahkan, sekarang kamu juga bisa menikmati pertunjukan tarian budaya yang menceritakan tentang legenda Keraton Ratu Boko sesuai jadwal yang ditentukan, lho.

Setelah sukses menarik perhatian wisatawan dengan beberapa pertunjukan sebelumnya, Ratu Boko kembali menghadirkan pertunjukan bertajuk Sandyakala Prabu Boko pada tanggal 15 Agustus 2026. Pertunjukan ini bisa disaksikan secara gratis oleh para pengunjung yang sudah mengantongi tiket masuk. Jadi, tidak ada biaya tambahan, ya!

Selain itu, ada banyak penawaran packages seru juga yang bisa dilakukan di Keraton Ratu Boko, mulai dari Boko Picnic dan Boko Sunset. Bahkan, kamu juga bisa memanfaatkan panorama estetik dari Keraton Ratu Boko untuk prewedding.

By the way, sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengamankan tiket ke Keraton Ratu Boko. Karena, ada diskon 30% untuk tiket dewasa wisatawan nusantara yang siap menantimu. Promo ini berlangsung selama periode booking 27 Juli hingga 7 Agustus untuk kunjungan 3–7 Agustus 2026.

Tunggu apalagi? Yuk, manfaatkan kesempatan lebih hemat berkunjung secara langsung ke situs sejarah yang memukau dan menyimpan banyak cerita. Amankan Tiket Keraton Ratu Boko secara online sekarang juga melalui website resmi Injourney Destination Management.

Baca juga: 7 Rekomendasi Tempat Wisata di Sleman yang Romantis dan Syahdu