Makna Relief Candi Prambanan, Erat Akan Kisah Ramayana
Candi Prambanan merupakan candi Hindu terbesar di Indonesia yang telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1991. Struktur ini tidak hanya menyajikan kemegahan jejak sejarah, tetapi juga menyimpan kisah romantik dan kepahlawanan dalam relief-relief dindingnya.
Sebelum berkunjung, sebaiknya kamu memahami makna relief Candi Prambanan agar perjalananmu lebih penuh arti. Ukiran relief Candi Prambanan dapat kamu lihat di tiga bangunan utama dalam kompleks Prambanan, yaitu Candi Wisnu, Candi Brahma, dan Candi Siwa. Yuk, pelajari makna relief Candi Prambanan dalam ulasan di bawah ini.
Sejarah Berdirinya Candi Prambanan, Masih Menjadi Misteri?
Jika mendengar tentang sejarah Candi Prambanan, kamu mungkin akan langsung teringat tentang legenda Bandung Bondowoso yang membangun seribu candi dalam satu malam untuk menikahi Roro Jonggrang.
Lantas, apakah berdirinya Candi Prambanan memang dibangun oleh Bandung Bondowoso? Perlu kamu pahami, legenda merupakan buah pikir yang menjadi produk budaya secara turun-temurun sehingga diyakini oleh banyak orang hingga sekarang.
Menariknya, sampai saat ini, belum ditemukan catatan atau manuskrip yang menginformasikan tentang siapa yang menggagas pembangunan Candi Prambanan dan berapa lama kompleks candi ini dibangun.
Namun, para arkeolog bersepakat bahwa penemuan prasasti Siwagrha bisa dijadikan sebagai catatan resmi mengenai sejarah Candi Prambanan. Dalam prasasti Siwagrha tertulis sengkolo “wwalung gunung sang wiku” yang berarti catatan ini dibuat pada 778 saka atau 856 Masehi.
Prasasti Siwagrha bercerita tentang peresmian Candi Prambanan di masa pemerintahan Rakai Pikatan. Bangunan ini diproyeksikan sebagai tempat untuk memuliakan rumah Dewa Siwa sehingga dulunya Candi Prambanan bernama Siwagrha (rumah Siwa).
Setelah berabad-abad tersembunyi, Candi Prambanan ditemukan seorang berkebangsaan Belanda, CA. Lons, pada tahun 1733. Kemudian, mulai menarik perhatian dunia saat ditemukan kembali oleh Colin Mackenzie, bawahan Sir Thomas Stamford Raffles, di masa pendudukan Britania atas Jawa.
Pemugaran Candi Prambanan dimulai pada tahun 1918, namun berhenti pada tahun 1933 karena adanya perang. Pada tahun 1945, pemugaran dilanjutkan oleh pribumi, kemudian diresmikan oleh Ir. Soekarno pada tahun 1953. Upaya restorasi untuk melestarikan warisan sejarah leluhur ini terus-menerus dilakukan sampai sekarang.
Sebagai upaya lebih lanjut, Indonesia dan India bekerja sama untuk melanjutkan proyek revitalisasi Candi Prambanan. Hal ini ditandai dengan kunjungan Presiden Prabowo dan PM India Narendra Modi ke Candi Prambanan untuk meresmikan proyek revitalisasi.
Menurut PM Modi, Candi Prambanan adalah simbol budaya Indonesia dan India yang perlu dilestarikan. Di mana, kompleks ini memiliki tiga candi utama Trimurti dan ratusan candi perwara.
Makna Relief Candi Prambanan, Mulai dari Kisah Kresnayana hingga Ramayana
Entah teknologi seperti apa yang digunakan di masa lalu hingga bisa menciptakan ukiran-ukiran indah yang sampai saat ini masih bisa kita nikmati keindahannya. Candi Prambanan erat kaitannya dengan kisah Ramayana yang terukir di sepanjang relief pagar langkan candi Trimurti (Candi Brahma, Candi Wisnu, dan Candi Siwa).
Namun, sebenarnya tidak hanya itu, relief Candi Prambanan juga menyajikan kisah dari epos Kresnayana. Berikut masing-masing penjelasannya:
1. Makna Relief Ramayana
Relief Ramayana terukir di sepanjang pagar langkan Candi Siwa dan Brahma, bermula dari Candi Siwa dan berakhir di Candi Brahma. Pembacaan relief dilakukan sesuai arah pradaksina, yakni berjalan searah jarum jam.
Munculnya Ancaman Raksasa di Bumi
Di Candi Siwa, terdapat sekitar 24 panel relief yang berkaitan dengan Ramayana. Dalam satu panel relief, kamu bisa melihat 2–3 cerita yang saling berkaitan. Pada panel pertama, kisah dimulai dengan adanya raksasa bernama Rahwana yang mengancam bumi. Karena hal itu, para dewa memohon kepada Wisnu turun ke bumi untuk membasmi Rahwana.
Kemenangan Rama Atas Shinta
Dalam kisah ini, Wisnu menjelma menjadi Rama untuk turun ke bumi dan menjalankan misinya. Relief ini mengisahkan kekuatan Rama yang berhasil membasmi serangan berbagai raksasa, hingga memenangkan sayembara untuk memenangkan Shinta. FYI, sayembara ini diikuti pula oleh Rahwana yang juga menjatuhkan hati pada Shinta. Dari sinilah, perselisihan Rama dan Rahwana dimulai.
Panel selanjutnya mengisahkan pengasingan Rama, Shinta, dan Laksmana ke hutan setelah Bharata dinobatkan sebagai raja. Selama perjalanan ke pengasingan, Rama banyak mengalahkan raksasa hingga mengusir Gagak Sura.
Terdapat salah satu panel menarik yang menceritakan tentang munculnya godaan raksasi (raksasa perempuan) yang ingin melamar Rama sebagai suaminya. Raksasa ini memanipulasi wujudnya menjadi wanita cantik. Namun, layaknya pria gentle, Rama sadar diri bahwa ia telah memiliki istri dan menolak raksasi.
Penculikan Shinta oleh Rahwana
Panel di Candi Siwa ini juga menceritakan awal mula konflik penculikan Shinta oleh Rahwana. Singkatnya, tragedi ini bermula ketika Shinta menginginkan seekor kijang emas, kemudian Rama berburu untuk menuruti keinginan istrinya. Ia meminta kepada Laksmana untuk menjaga Shinta.
Namun, hal yang tidak diinginkan terjadi, Shinta mendengar adanya teriakan dan mengira sumber suara itu berasal dari Rama sehingga mengutus Laksmana untuk memeriksa kondisi Rama. Ketika Shinta sendiri, inilah kesempatan Rahwana untuk menculiknya.
Pertemuan dengan Hanoman
Panel relief Candi Prambanan berikutnya mengisahkan tentang pengembaraan Rama dan Laksmana setelah mengetahui bahwa sang kekasih diculik. Selama perjalanan, keduanya sering mengalami serangan hingga akhirnya bertemu dengan Hanoman.
Pertemuannya dengan Hanoman membawa Rama untuk bertemu Sugriwa, sang Raja Kera di Kerajaan Kiskenda dan membantunya mengambil kembali tahta kerajaan yang sebelumnya direbut oleh Subali. Perselisihan ini berakhir dengan kemenangan Sugriwa atas bantuan Rama.
Setelah itu, Rama menceritakan tentang misinya dalam mencari sang istri. Mendengar hal itu, Sugriwa segera mengutus Hanoman untuk pergi ke Ngalengka (tempat Rahwana) untuk melihat kondisi Shinta.
Panel relief di Candi Siwa berakhir pada kisah di mana para kera bergotong royong membuat jembatan agar Rama dan Laksmana bisa mencapai Ngalengka untuk menjemput Shinta. Lantas, bagaimana kisah pertemuan kembali Rama dan Shinta di Ngalengka?
Rama Berhasil Mencapai Ngalengka
Memasuki Candi Brahma, kamu akan melihat panel-panel relief yang melanjutkan kisah Ramayana setelah Rama berhasil menuju Ngalengka. Di dalam candi Brahma, terdapat sekitar 30 panel relief.
Panel-panel tersebut menceritakan secara detail mengenai hambatan dan strategi Rama untuk menuju Kerajaan Ngalengka. Keteguhan hati Rama membuat Rahwana mengutus Dasamuka untuk menemui Rama dan memberitahunya agar menyerah jika ia ingin selamat. Namun, Rama tidak pantang menyerah.
Kumbokarno, Sang Raksasa Baik Hati
Salah satu panel relief menceritakan tentang Kumbokarno, adik Rahwana yang memiliki sifat baik, berbeda 180 derajat dengan sang kakak. Ia maju berperang bukan untuk membela Rahwana, melainkan mempertahankan tanah airnya yang sedang diserang. Akan tetapi, Kumbokarno kemudian gugur dalam perang melawan Rama.
Kekalahan Rahwana dan Pertemuan dengan Shinta
Setelah mengalahkan Kumbokarno, Rama menyerang Rahwana dan mengalahkannya. Setelah itu, Rama akhirnya kembali bertemu dengan Shinta. Sayangnya, kisah cinta Rama dan Shinta kembali diuji.
Berbeda dengan versi yang populer di masyarakat, relief ini menunjukkan bahwa sepulang dari Ngalengka, Rama tidak mempertanyakan kesucian Shinta. Keraguan Rama justru berfokus pada kehamilan Shinta dan asal-usul anak yang dikandungnya.
Rama mendapatkan bisikan bahwa Shinta mengandung (namun bukan anaknya), sehingga ia mengutus Laksmana untuk mengasingkan Shinta. Alih-alih membuangnya, Laksmana menyelamatkan Shinta dengan membawanya ke hutan agar bertemu dengan orang yang bisa menolongnya.
Kelahiran Lawa dan Kusya
Saat di pengasingan, Shinta bertemu dengan Resi yang menolongnya dan membawanya ke padepokan hingga ia melahirkan putra kembarnya yang diberi nama Lawa dan Kusya. Shinta membesarkan kedua putranya di padepokan dan mendapatkan pelatihan bela diri.
Suatu hari, Lawa dan Kusya dibawa oleh Resi ke Ayodya (negeri asal Rama) untuk memperlihatkan pada mereka bahwa ayahnya seorang Raja. Dalam perjalanan, keduanya telah dibekali kisah Ramayana oleh Resi.
Setelah bertemu dengan Rama, Resi bercerita bahwa Lawa dan Kusya adalah anak dari Rama dan Shinta. Di kemudian hari, Lawa dan Kusya dinobatkan sebagai Raja Ayodya.
2. Makna Relief Kresnayana
Relief Kresnayana terukir di sepanjang pagar langkan Candi Wisnu. Secara garis besar, relief ini menceritakan tentang kisah Kresna mulai dari kelahirannya hingga tumbuh dewasa. Selain Rama, Kresna juga merupakan wujud reinkarnasi Dewa Wisnu pada masa yang berbeda.
Panel pertama dimulai dengan gambaran Kerajaan Mathura yang dipimpin oleh Raja Ugrasena. Konflik utama dari kisah relief ini adalah ambisi Raja Kamsa yang ingin memusnahkan Kresna agar ia tetap abadi.
Ambisi Kejam Raja Kamsa
Raja Kamsa dikenal sebagai penguasa paling kejam pada masanya. Ia memperoleh anugerah dari Brahma yang membuatnya tidak dapat dibunuh, kecuali oleh seorang bayi yang kelak lahir dengan nama Kresna. Di mana, bayi tersebut akan lahir dari rahim sang adik, Dewaki. Alhasil, setiap bayi yang dilahirkan oleh Dewaki dibunuh oleh Raja Kamsa.
Saat kelahiran Balarama dan Kresna, kedua bayi ini dibuang oleh Dewaki agar tidak dibunuh oleh Raja Kamsa. Namun, hal ini diketahui oleh Raja Kamsa yang membuatnya selalu mengirimkan gangguan untuk memusnahkan Kresna. Sayangnya, berbagai upaya tersebut tidak pernah berhasil.
Kekalahan Raja Kamsa
Seiring bertambah dewasa, Kresna menunjukkan berbagai kesaktian dan keberanian dalam menghadapi rintangan serta makhluk jahat yang dikirim oleh Kamsa. Pada akhirnya, Kresna datang ke kerajaan Mathura dan berhasil mengalahkan Raja Kamsa sehingga kedamaian kembali terwujud dan bisa berkumpul dengan keluarga.
Telusuri Jejak Kisah Rama dan Kresna di Relief Candi Prambanan!
Itulah penjelasan mengenai makna relief Candi Prambanan yang bisa kamu pelajari. Memahami makna relief Candi Prambanan membuat pengalaman berkunjung ke kompleks candi ini terasa lebih bermakna. Setiap ukiran yang terpahat pada dinding candi menyimpan kisah, nilai moral, dan filosofi kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Agar dapat melihat langsung keindahan relief Ramayana, Kresnayana, dan berbagai ukiran bersejarah lainnya, pastikan kamu merencanakan kunjungan dengan baik. Kamu bisa membeli tiket Candi Prambanan secara online melalui website resmi Injourney Destination Management sebelum keberangkatan agar proses masuk lebih praktis dan waktu wisata menjadi lebih nyaman.
Yuk, rasakan secara langsung kemegahan ukiran relief Candi Prambanan sekarang juga!
Baca juga: Sandyakala Jonggrang, Sajikan Keindahan Legenda dan Budaya
