download
Background Muhibah Budaya 2026 Pererat Pelestarian Budaya Mataraman di Yogyakarta–Magelang Background Muhibah Budaya 2026 Pererat Pelestarian Budaya Mataraman di Yogyakarta–Magelang
Decoration Decoration Decoration
IMG_5108

Muhibah Budaya 2026 Pererat Pelestarian Budaya Mataraman di Yogyakarta–Magelang

Candi Borobudur menjadi ruang perjumpaan budaya antara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Kabupaten Magelang melalui pagelaran Muhibah Budaya 2026 Merajut Budaya Mataraman dari Jogja menuju Indonesia. 

Kegiatan yang berlangsung di Marga Utama kompleks Candi Borobudur, Rabu (21/10/2026), ini menjadi wujud kolaborasi kedua wilayah dalam mempererat persaudaraan, memperkuat identitas budaya, serta menjaga keberlanjutan warisan Mataraman di tengah dinamika perkembangan zaman.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X mengapresiasi penyelenggaraan Muhibah Budaya 2026 sebagai ruang untuk merawat hubungan historis dan kultural antara Yogyakarta dan Magelang. Menurutnya, kedekatan geografis, sejarah, dan kebudayaan kedua wilayah merupakan modal penting untuk membangun harmoni masyarakat sekaligus memperkuat persatuan bangsa.

“Dalam semangat memayu hayuning bawana, muhibah budaya ini kiranya menjadi ikhtiar merawat keselarasan, menghormati perbedaan, dan memperteguh persaudaraan yang telah lama tumbuh antara Yogyakarta dan Magelang,” ujar Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

Sri Sultan HB X turut menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Magelang, atas dukungan terhadap penyelenggaraan Muhibah Budaya 2026. Ia berharap kolaborasi antardaerah melalui kegiatan kebudayaan dapat terus diperkuat sehingga memberikan kontribusi nyata bagi kehidupan masyarakat dan pemajuan kebudayaan nasional.

Bupati Magelang Grengseng Pamuji menilai sinergi antara Pemerintah Kabupaten Magelang dan Pemerintah Daerah DIY merupakan langkah strategis untuk membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan. 

Kedekatan historis dan kultural kedua wilayah, menurutnya, menjadi modal sosial yang dapat dikembangkan untuk menjaga identitas bangsa sekaligus menciptakan manfaat bagi masyarakat, termasuk melalui pengembangan pariwisata berbasis kebudayaan.

“Pemajuan kebudayaan tidak dapat dilakukan secara parsial. Sinergi antara Pemerintah Kabupaten Magelang dan Pemda DIY ini diharapkan mampu memantik semangat generasi muda untuk terus mencintai, melestarikan, dan mempelajari kebudayaan adiluhur,” kata Grengseng.

Keterhubungan Yogyakarta dan Magelang memiliki akar sejarah panjang yang dapat ditelusuri sejak era Mataram Kuno hingga Mataram Islam. Jejak peradaban di wilayah Magelang antara lain tercatat dalam Prasasti Canggal yang berasal dari 732 Masehi dan ditemukan di kawasan Candi Gunung Wukir, serta Prasasti Mantyasih bertarikh 907 Masehi yang memuat keterangan mengenai wilayah pada masa itu.

Hubungan kedua wilayah berlanjut pada era Mataram Islam, khususnya setelah Perjanjian Giyanti pada 1755. Dalam perkembangan sejarah tersebut, wilayah Magelang memiliki keterkaitan dengan Kesultanan Yogyakarta dan berperan strategis dalam mendukung kehidupan kerajaan, termasuk sebagai kawasan penyangga pangan dan pertahanan. 

Penguatan pemahaman sejarah tersebut juga menjadi bagian dari upaya memastikan warisan budaya tidak hanya dikenal sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dipahami nilai dan relevansinya oleh generasi penerus. Hal ini dilakukan melalui agenda sarasehan kebudayaan yang diharapkan dapat menjadi sarana berbagi pengetahuan sejarah yang dapat ditindaklanjuti ke dalam pembelajaran di sekolah.

Muhibah Budaya 2026 mempersembahkan tari Klana Sewandana dan Swaraning Rinding dari Provinsi DIY. Sementara Kabupaten Magelang menampilkan kesenian Soreng dan Gambyong. Ragam pertunjukan ini memperlihatkan kekayaan ekspresi budaya Mataraman sekaligus menghadirkan ruang apresiasi lintas daerah bagi masyarakat.

Melalui perjumpaan seni, dialog sejarah, dan kolaborasi antarpemerintah daerah, Muhibah Budaya 2026 diharapkan berkembang menjadi ruang untuk memperkuat identitas lokal, menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam pelestarian warisan budaya, serta membuka peluang pengembangan pariwisata yang bertumpu pada kekayaan sejarah dan tradisi.

Situs Candi Borobudur sebagai tempat penyelenggaraan menegaskan pentingnya warisan budaya sebagai ruang temu antarkomunitas yang diharapkan dapat terus merawat warisan Mataraman sebagai sumber pengetahuan dan inspirasi bagi generasi muda sekaligus memperkaya khazanah kebudayaan Indonesia.