download
Background InJourney Hospitality House Perkuat Kompetensi 120 Pedagang Kios UMKM di Candi Prambanan Background InJourney Hospitality House Perkuat Kompetensi 120 Pedagang Kios UMKM di Candi Prambanan
Decoration Decoration Decoration
7V1A5039

InJourney Hospitality House Perkuat Kompetensi 120 Pedagang Kios UMKM di Candi Prambanan

PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko (Persero) bersama PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) Yogyakarta International Airports (YIA) menyelenggarakan program InJourney Hospitality House (IHH) Batch 6 Tahun 2026 bagi 120 pedagang kios di kawasan Taman Wisata Candi Prambanan. 

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari pada 20–22 Oktober 2026 ini bertujuan memperkuat kompetensi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang beraktivitas di destinasi Candi Prambanan dalam menerapkan standar keramahtamahan, meningkatkan pelayanan, serta mengembangkan usaha yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.

GM Prambanan & Ratu Boko Leonardus Adityo Nugroho mengatakan bahwa InJourney Hospitality House merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam meningkatkan kapasitas pelaku UMKM di kawasan destinasi. Program ini diharapkan mampu mendorong perkembangan usaha pedagang, baik dari sisi kualitas pelayanan, daya tarik produk, maupun potensi peningkatan omzet.

“Program ini merupakan upaya berkelanjutan untuk memperkenalkan dan memperkuat standar keramahtamahan bagi para pelaku usaha di kawasan Candi Prambanan. Kami ingin membangun budaya pelayanan yang ramah, profesional, dan berkesan bagi setiap wisatawan yang berkunjung,” ujarnya.

Program ini menjadi bagian dari upaya kolaboratif untuk membangun pengalaman berwisata berkesan melalui kualitas interaksi antara pengunjung dan para pelaku usaha di kawasan destinasi. Materi pelatihan dirancang untuk menjawab kebutuhan praktis pedagang dalam menjalankan usaha sehari-hari. 

Peserta mendapatkan pembekalan mengenai prinsip keramahtamahan, praktik percakapan bahasa Inggris sederhana untuk melayani wisatawan mancanegara, teknik menghadapi keluhan pelanggan (complaint handling), serta cara menawarkan produk melalui pendekatan storytelling. Peserta juga mempelajari penataan produk atau visual merchandising agar barang dagangan lebih menarik dan mudah dilihat pengunjung.

Pelatihan ini turut menekankan praktik langsung melalui simulasi menghadapi pelanggan, latihan komunikasi, dan praktik menawarkan produk, sehingga pedagang semakin percaya diri dalam berinteraksi dengan beragam karakter pengunjung.

Airport Quality Control & Safety Management System Division Head PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) Yogyakarta International Airport (YIA) Indra Fandy Parlaungan Nasution menyampaikan bahwa penguatan keramahtamahan perlu dilakukan secara berkesinambungan melalui kolaborasi berbagai pihak dalam ekosistem pariwisata.

Ia menekankan bahwa keramahtamahan tidak hanya ditunjukkan melalui produk atau fasilitas yang tersedia, tetapi juga melalui sikap, komunikasi, dan kesediaan pelaku usaha dalam memberikan pelayanan terbaik kepada setiap pelanggan.

“Bapak dan Ibu merupakan bagian penting dari pelayanan di lapangan. Kami berharap kesempatan pelatihan selama tiga hari ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kolaborasi ini juga diharapkan terus berlanjut agar penguatan kompetensi pelaku usaha dapat dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan,” ungkapnya.

Salah satu peserta Galih Anjas Prasetyo, pedagang suvenir dan pernak-pernik di kawasan Candi Prambanan, mengatakan bahwa materi pelatihan ini membantunya memahami cara berkomunikasi yang tepat kepada pengunjung. Dirinya mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana menawarkan produk secara menarik, mengelola komunikasi saat menghadapi keluhan dan cara menata barang agar terlihat menarik dijajakan.

“Saya mendapatkan banyak tambahan pengetahuan, mulai dari memilih kata-kata yang tepat saat menawarkan produk, mengendalikan emosi ketika menghadapi pelanggan yang menyampaikan keluhan, hingga menata barang dagangan agar lebih menarik. Harapannya, pengunjung merasa nyaman, puas dengan pelayanan yang diberikan, dan tertarik untuk kembali berkunjung maupun membeli produk kami,” kata Galih yang meneruskan usaha keluarganya yang dirintis sejak dekade 1990-an.

Pengalaman serupa disampaikan Tumina, pedagang makanan yang telah berjualan di kawasan Candi Prambanan selama 35 tahun. Dalam kesehariannya, ia kerap melayani wisatawan dari berbagai daerah dan negara, meskipun memiliki keterbatasan dalam berbahasa Inggris.

Bagi Tumina, pelatihan ini menjadi kesempatan untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kepercayaan diri dalam melayani pengunjung. Ia menyambut baik materi bahasa Inggris sederhana yang dapat langsung dipraktikkan, sehingga komunikasi dengan wisatawan mancanegara dapat dilakukan dengan lebih baik.

“Senang sekali bisa mendapatkan ilmu baru. Saya ingin bisa melayani tamu-tamu dengan lebih baik. Semoga ke depannya Candi Prambanan semakin maju, semakin banyak pengunjung, dan usaha kami juga semakin lancar,” tuturnya.

Melalui penyelenggaraan InJourney Hospitality House Batch 6 Tahun 2026, PT TWC bersama PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) berharap para pedagang kios di kawasan Candi Prambanan dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperkuat daya saing usaha. 

Inisiatif ini sekaligus menegaskan pentingnya pemberdayaan UMKM sebagai bagian dari pengembangan pariwisata yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui pelibatan pelaku usaha sebagai bagian integral dari pengalaman berwisata, Candi Prambanan dapat menghadirkan pelayanan yang semakin berkualitas, memperkuat keterlibatan masyarakat dalam ekosistem pariwisata, serta menciptakan nilai tambah yang dirasakan bersama.