Kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang, Cinta yang Tragis
Kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang sudah seperti Romeo Juliet versi Indonesia, bukankah begitu? Legenda ini mengisahkan tentang cinta, kekuasaan, tipu daya, hingga pengkhianatan.
Kisah ini begitu lekat dengan pembangunan seribu candi sebagai pembuktian cinta yang berakhir tragis dan dipercaya sebagai cikal bakal Candi Prambanan. Legenda ini juga berkaitan dengan Keraton Ratu Boko. Konon, Keraton Ratu Boko dipercaya sebagai istana Roro Jonggrang atau rumah dari Prabu Boko.
Lantas, siapa Bandung Bondowoso sebenarnya? Bagaimana kisah cintanya dengan Roro Jonggrang? Yuk, telusuri kembali kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang yang telah diceritakan dari generasi ke generasi.
Kisah Bandung Bondowoso: Siapa Dia Sebenarnya?
Selain dikenal sebagai sosok ksatria dengan kekuatan mahadahsyat yang meminang Roro Jonggrang, dari mana Bandung Bondowoso berasal?
Dahulu kala, berdiri sebuah kerajaan bernama Pengging. Kerajaan Pengging dipimpin oleh Raja Damar Maya. Raja tersebut memiliki seorang putra bernama Joko Bandung, yang nantinya dikenal juga sebagai Bandung Bondowoso.
Diceritakan, Joko Bandung telah lama membujang sehingga menimbulkan keresahan bagi sang ayah. Menurut putranya itu, belum ada perempuan yang membuatnya jatuh cinta, bahkan dari semua gadis yang ada di Kerajaan Pengging. Ia juga menambahkan bahwa dirinya baru akan menikah ketika Prambanan sudah jatuh ke tangan Kerajaan Pengging.
Roro Jonggrang, Putri Berparas Ayu yang Menjatuhkan Hati Bandung Bondowoso
Roro Jonggrang adalah putri dari penguasa Kerajaan Prambanan, Prabu Boko. Meski Prabu Boko memiliki tubuh tinggi besar dan sebagian orang menganggapnya sebagai keturunan raksasa, Roro Jonggrang justru memiliki paras cantik jelita dan perawakan yang lemah gemulai.
Seperti halnya Joko Bandung, Roro Jonggrang juga belum memiliki keinginan untuk menikah pada usia yang tergolong sudah dewasa. Hal ini menimbulkan pertanyaan dari Prabu Boko, “Mau sampai kapan akan seperti ini?”
Roro Jonggrang memiliki jawaban yang selaras dengan Joko Bandung, ia akan menikah ketika kerajaannya berhasil memenangkan peperangan. Jawaban dari putrinya tersebut mendorong Prabu Boko untuk segera pergi ke medan pertempuran memimpin pasukan pilihannya dan menyerahkan kekuasaannya kepada Roro Jonggrang.
Sesampainya di medan perang, Prabu Boko berhasil menumpas sebagian besar pasukan Kerajaan Pengging dengan ilmu kanuragan miliknya. Hal ini membuat banyak pasukan Kerajaan Pengging berlarian mundur dari medan perang.
Baca juga: Isi Prasasti Ratu Boko, Peninggalan dari Masa Mataram Kuno
Bandung Bondowoso Bukan Nama Asli?
Di Kerajaan Pengging, seorang prajurit membawa sebuah berita bahwa pasukan mereka banyak yang tewas. Mendengar hal tersebut, Bandung Bondowoso memiliki tekad untuk terjun ke medan peperangan dan meminta izin kepada sang ayah. Raja Damar Maya kemudian memberikan izin kepada sang putra.
Dalam perjalanan menuju medan perang, Joko Bandung harus melintasi sebuah hutan angker. Konon, siapa pun yang berani melewati hutan tersebut akan menjadi santapan sang penunggu hutan yang dikenal sebagai Bondowoso.
Memasuki area tengah hutan, terdapat pohon besar yang roboh di hadapannya dan menimpa kuda yang ditungganginya. Tak lama kemudian, ia diserang oleh penunggu hutan, sehingga menimbulkan pertarungan antara Joko Bandung dan Bondowoso.
Berkat keberaniannya, Joko Bandung berhasil membuat Bondowoso mengaku kalah dan memohon pengampunan. Bondowoso berkata, “Jika kau mengampuniku, aku akan bergabung dengan ragamu, niscaya kekuatanmu akan berlipat. Semua jin di hutan ini juga akan tunduk kepadamu.”
Joko Bandung menyetujui tawaran tersebut. Akhirnya, ia telah menjadi satu dengan Bondowoso sehingga namanya berubah menjadi Bandung Bondowoso. Berkat penyatuan tersebut, ia mampu keluar dari hutan dan menuju medan pertempuran dalam waktu singkat hanya dengan berlari.
Pertempuran Bandung Bondowoso dan Prabu Boko
Sesampainya di medan pertempuran, ia melihat seluruh pasukan Kerajaan Pengging sudah dikalahkan oleh Prabu Boko. Hal ini membuat Bandung Bondowoso sangat marah. Kemudian, terjadilah pertempuran hebat antara Prabu Boko dan Bandung Bondowoso.
Meski melewati pertempuran yang sengit, dengan kekuatan luar biasa yang telah didapatkan oleh Bandung Bondowoso sebelumnya, akhirnya ia berhasil mengalahkan Prabu Boko. Lalu, ia meminta seorang prajurit untuk mengantarkannya ke Istana Prambanan.
Pertemuan Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang; Awal Mula Kisah Seribu Candi
Saat menginjakkan kaki di Kerajaan Prambanan, Bandung Bondowoso bertemu dengan Roro Jonggrang. Ia melihat Roro Jonggrang sebagai perempuan tercantik yang pernah ditemuinya dan langsung jatuh hati kepada sang putri. Begitu pula dengan Roro Jonggrang. Ketika pertama kali bertemu dengan Bandung Bondowoso, ia terpukau oleh ketampanan pemuda tersebut.
Namun, ada hal lebih penting yang disampaikan oleh salah satu prajurit. Ia membawa kabar bahwa Prabu Boko telah dikalahkan dan tewas di tangan Bandung Bondowoso. Mendengar hal tersebut, Roro Jonggrang yang sebelumnya kagum menjadi sangat membenci Bandung Bondowoso.
Di sisi lain, Bandung Bondowoso yang sudah sangat yakin dengan pilihan hatinya, berinisiatif untuk meminang Roro Jonggrang sebagai permaisurinya. Mendengar hal tersebut, Roro Jonggrang tidak langsung menolak, melainkan memberikan syarat yang ia pikir tidak bisa dipenuhi oleh Bandung Bondowoso, yaitu membuat seribu candi dan dua sumur dalam waktu satu malam.
Bandung Bondowoso menerima persyaratan tersebut. Tentu, hal ini membuat Roro Jonggrang terkejut. Namun, ia masih optimis bahwa Bandung Bondowoso tidak mungkin menyelesaikan persyaratan tersebut dalam waktu yang sangat singkat.
Rupanya, Bandung Bondowoso telah meminta bantuan pasukan jin hutan yang berjumlah ribuan. Alhasil, menyelesaikan seribu candi dan dua sumur dalam waktu satu malam bukanlah sesuatu yang mustahil.
Baca juga: Menguak Mitos Keraton Ratu Boko, Legenda atau Fakta Sejarah?
Siasat Roro Jonggrang
Melihat Bandung Bondowoso hampir menyelesaikan seribu candi sebelum fajar, Roro Jonggrang dilanda kecemasan. Ia mencari cara agar Bandung Bondowoso gagal dalam misi tersebut.
Dengan siasatnya, Roro Jonggrang meminta para dayang istana memukul lesung sehingga timbul suara riuh. Kemudian, pengawal istana diutus untuk membakar kayu dan tumpukan jerami di sisi timur. Akibatnya, ayam jantan di seluruh Prambanan saling berkokok. Seketika itu, ribuan jin yang sedang mengerjakan candi berlarian ketakutan.
Padahal, Bandung Bondowoso baru menyelesaikan 999 candi. Ia merasakan keanehan akan datangnya fajar yang terlalu cepat. Kemudian, ia mengetahui fakta bahwa ayam berkokok tersebut dipicu oleh tipu muslihat sang putri.
Akhir Kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang
Setelah Bandung Bondowoso tidak dapat memenuhi persyaratannya, Roro Jonggrang kemudian menemui pemuda tersebut dan berkata, “Sudahlah, kau tidak bisa memenuhi janjimu. Kau tidak layak menjadi ksatria karena tidak bisa menepati janjimu. Dengan begitu, aku pun tidak akan menikah denganmu.”
Karena amarah yang memuncak akibat tipu muslihat tersebut, Bandung Bondowoso mengutuk Roro Jonggrang sebagai batu untuk menggenapi jumlah candi menjadi seribu. Begitulah akhir tragis dari kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Berdasarkan mitos Candi Prambanan yang masih eksis sampai saat ini, arca Roro Jonggrang diyakini tersimpan di dalam Candi Siwa, salah satu candi utama di Prambanan.
“Sandyakala Bandung Bondowoso”, Menghidupkan Kembali Legenda dalam Seni
Sampai saat ini, kisah Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang masih menjadi salah satu daya tarik wisata di Keraton Ratu Boko dan Candi Prambanan. Oleh karena itu, untuk menghidupkan kembali cerita rakyat tersebut, Keraton Ratu Boko mempersembahkan pertunjukan seni tari bertajuk “Sandyakala Bandung Bondowoso” yang menceritakan kisah Bandung Bondowoso.
Sandyakala Bandung Bondowoso diselenggarakan pada 5 September 2026, mulai pukul 16.30 WIB. Pertunjukan yang memadukan keindahan senja di langit Ratu Boko dan keanggunan tarian budaya ini dapat disaksikan secara gratis oleh pengunjung yang sudah mengantongi tiket masuk Keraton Ratu Boko, tanpa biaya tambahan apa pun!
Kalau kamu tertarik untuk menontonnya, disarankan untuk tiba sebelum pukul 14.30 WIB. Agar kunjunganmu lebih praktis, kamu bisa mengamankan tiket masuk Keraton Ratu Boko dari sekarang secara online melalui laman tiket resmi yang disediakan oleh Injourney Destination Management.
Jangan sampai ketinggalan, yuk jadi saksi pertunjukan mewah di Keraton Ratu Boko dan ciptakan pengalaman yang mengesankan bersama kami!
Baca juga: Sandyakala Jonggrang, Sajikan Keindahan Legenda dan Budaya
